Home
Berita  

KELAPA SAWIT: Naikkan Produksi Dua Kali Lipat Tanpa Buka Lahan

Dengan mengejar produktivitas sampai ke level yang bisa dicapai, Indonesia membidik produksi minyak sawit dua kali lipat dari sekarang dan menangguk tambahan devisa US$26 miliar.

1. Pelepasan sumber daya genetik asal Tanzania di Serdang Bedagai, Sumut, 5 Mei 2026 dihadiri jajaran pengurus GAPKI, Kementan, dan Dubes Tanzania untuk Indonesia Macocha Moshe Tembele (Sumber: GAPKI)

Jakarta, AGRINEWS – Produksi kelapa sawit nasional lima tahun terakhir cenderung stagnan, 51 juta–56,5 juta ton/tahun. Tingkat produktivitas minyaknya pun nyaris datar selama 20 tahun, 3–4 ton/ha/tahun. Sementara kebutuhan pasar domestik dan permintaan ekspor naik setiap tahun.

Kesenjangan Masih Lebar

Dalam Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta, 20-21 Juli 2026, Ir. Dwi Asmono, M.S., Ph.D., IPU, mengungkap masih lebarnya kesenjangan produktivitas (yield gap) perkebunan sawit dari potensi genetiknya.

Mengutip hasil penelitian Prof. Patricio Grassini, Ph.D., dari Universitas Nebraska-Lincoln, AS, di Indonesia, produktivitas perkebunan besar maksimal 62% dari level yang bisa dicapai (attainable yield). Sementara perkebunan rakyat baru mencapai 53%. Attainable yield ini berkisar 70%-80% dari potensi produktivitas.

“Penyebabnya adalah implementasi best practice (praktik budidaya terbaik) yang belum maksimal. Dengan memaksimalkan best practice di onfarm, kita punya peluang meningkatkan produksi CPO (crude palm oil) 35%-40%. Kalau ini bisa tercapai secara sistematis, paling tidak potensi CPO bisa kita naikkan dua kali lipat,” ulas Dwi, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI).

Lima Konsorsium

GAPKI lantas membentuk lima konsorsium, yakni sumber daya genetik (SDG), serangga penyerbuk, pupuk hayati, Ganoderma, dan mekanisasi, digitalisasi, dan otomasi (MDO).

“Terkait SDG, dari sisi planting material, elite material kita kuat. Varietas sawit kita mirip jagung di Amerika. Namun dari sisi bahan tanamannya (SDG), kita kalah jauh dibandingkan Malaysia yang sudah memiliki SDG dari 18 negara. Sementara Indonesia baru dari empat negara, yakni Kamerun (2008), Angola (2010), Ekuador (2016), dan Tanzania (2024),” papar Director for Sustainability, Research & Development PT Prime Agri Resources Tbk.

Pemerintah melepas SDG dari Tanzania pada 5 Mei 2026. Pelepasan SDG ini memperkaya keragaman plasma nutfah sawit sehingga para pemulia dapat merakit varietas unggul yang lebih produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, dan tahan menghadapi berbagai cekaman lingkungan

“Alhamdulillah dengan backup dari BPDP, setelah Tanzania, dalam waktu dekat kita ke Zambia. Kita sedang mendiskusikan dengan Nigeria, melobi Far West Afrika dan Gabon,” bebernya dalam sesi budidaya PERISAI.

Tanaman sawit berasal dari Afrika. Tanaman ini tidak bisa menyerbuk sendiri, harus menyerbuk silang. Hanya mengandalkan angin dan serangga penyerbuk lokal, pembentukan buah (fruit set) rendah, hanya sekitar 40%.

Karena itu, kita perlu mengintroduksi serangga penyerbuk yang berupa kumbang kecil dari Afrika. Pada 1982, Indonesia mendapatkan hibah 508 ekor kumbang Elaeidobius kamerunicus dari Malaysia.

Setelah beroperasi 40 tahun lebih, kinerja kumbang asli Kamerun menurun jauh sehingga Kementan bersama GAPKI yang didukung BPDP mengintroduksi tiga spesies baru, yakni E. kamerunicus, E. subvittatus, dan E. plagiatus bersamaan SDG dari Tanzania. Melalui proses administrasi dan pengujian efektivitas serta keamanannya, kumbang baru ini resmi dirilis 9 April 2026.

Produktvitas perkebunan rakyat rata-rata 20% lebih rendah ketimbang swasta. Penyebabnya, pekebun masih mengandalkan pupuk kimia yang sejak terjadi gejolak gepolitik pasokannya terganggu dan harganya melonjak. Karena itu GAPKI menggandeng Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB  dan PT LAPI ITB Bandung mengkaji pupuk hayati dari Indonesia.

Sampai saat ini pengkajian dan implementasi di lapangan sedang berlangsung. Targetnya menurunkan pemakaian pupuk NPK sebanyak 40%-60%.

Salah satu pengganggu produksi adalah penyakit busuk pangkal batang (Basal Stem Rot-BSR) yang disebabkan cendawan Ganoderma boninense. “Menurut Russel Patterson, 51% lahan perkebunan di Indonesia rawan terserang Ganoderma. Saat ini BSR menyerang 12 provinsi dan bisa memangkas produktivitas hasil 50%-80%. Untuk menghadapinya paling tidak butuh waktu 100 tahun dan pendekatannya tidak bisa segmental,” ulas pemulia sawit senior tersebut.

Alumnus Iowa State University itu menambahkan, pada 2025 GAPKI mengajukan pembiayaan riset paralel ke BPDP via Ditjen Perkebunan, Kementan. Tujuannya untuk seleksi bibit dengan marka resisten Ganoderma, membangun basis data sebaran Ganoderma secara nasional, dan mendapatkan mikroba endofit sebagai biokontrol BSR sebagai cara pengendalian hayati.

Sasaran akhir adalah pendekatan pengendalian BSR secara menyeluruh dengan material genetik tahan ganoderma, deteksi dini, kontrol secara biologi, best management practices, dan rekomendasi kebijakan.

Konsorsium MDO untuk mewujudkan perkebunan sawit yang lebih cerdas, efisien, dan presisi. Pembiayaannya berasal dari BPDP, beberapa perusahaan anggota GAPKI, dan Kementan/BRIN atau LPDP, Kemenkeu. Melibatkan Badan Kejuruan Teknik Pertanian (BKTP) – Persatuan Insinyur Indonesia, proses dan implementasinya di lapangan tengah berlangsung.

Dwi Asmono (kanan) bersama Ketum GAPKI Eddy Martono, kita bisa menaikkan produksi CPO dua kali lipat (Sumber: Dwi Asmono)
Dengan mekanisasi pengumpulan buah lebih efisien (Sumber: Peni Sari Palupi)

Dampak Ekonomi

Kelima konsorsium tersebut diharapkan menelurkan hasil riset yang dapat menjadi inovasi dan layak.

“Estimasi dampak ekonomi tiga program riset GAPKI yang diimplementasikan secara penuh adalah tambahan devisa US$26 miliar/tahun. Rinciannya, pengayaan SDG menaikkan rata-rata produktivitas CPO 4-5 ton/ha/tahun senilai US$15,4 miliar.

Peningkatan fruit set hingga 65%-85% dan rendemen CPO 2%-3% dengan serangga penyerbuk baru menghasilkan US$4,9 miliar. Dan pengendalian Ganoderma menekan 10% kehilangan produksi CPO senilai US$6 miliar,” pungkas Dwi dengan nada optimis.

Exit mobile version