Batang, AGRINEWS – Lahan-lahan tidur yang terendam air pasang laut (rob) di pesisir Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kini tak lagi mangkrak.
Tangan-tangan terampil dari para petani di Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, bersama Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang, sukses menyulap hamparan tanah asin tersebut menjadi ladang padi biosalin yang siap panen.
Bulir padi yang menguning, merebak di atas tanah berkadar garam tinggi.
Panen perdana musim ini membentang di lahan seluas dua hektare yang dikelola oleh tiga petani.
Meski idealnya dipanen pada usia 82 hari, tanaman padi biosalin ini terpaksa dipetik lebih awal pada usia 76 hari setelah tanam.
Langkah ini diambil, untuk menjaga kualitas bulir padi agar tidak kosong seiring ketersediaan air tawar yang kian menyusut.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispaperta Batang, Rini Diana Anggiani mengatakan, budi daya varietas khusus ini menjadi solusi nyata untuk memulihkan produktivitas lahan-lahan marjinal yang terdampak rob.
“Untuk panen rencana lahan biosalin yang ada di Batang, kami tahun ini ada salah satu titik di wilayah Desa Depok dengan luasan dua hektare. Ini adalah program pendampingan dari Dispaperta Batang, yang mana hari ini direncanakan panen dengan upaya pemanfaatan lahan rob yang ada itu kita skemakan untuk penanaman padi salin. Alhamdulillah hari ini bisa bagus dan apa yang diupayakan sesuai dengan harapan kita,” ujarnya saat ditemui di Desa Depok, Kabupaten Batang (10/8/2026).
Menanam di tanah berminim air tawar memang menuntut perlakuan khusus dan skema budi daya yang presisi.
Selain peranan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), nutrisi tambahan seperti pupuk Tasnim dan pengaturan irigasi menjadi kunci utama penopang tumbuh kembang tanaman.
“Meski proses perhitungannya masih dalam tahap ubinan oleh Dispaperta, produktivitasnya diproyeksikan mampu menyentuh angka 5 hingga 6 ton per hektare, dengan potensi maksimal mencapai 7 hingga 8 ton per hektare. Selain di Desa Depok, ekspansi padi tahan asin ini juga tengah digarap di kawasan Kasepuhan hasil kolaborasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Perusahaan Gas Negara (PGN),” ungkapnya.
Bagi para petani di kawasan pesisir, hadirnya varietas ini memberikan angin segar.
Rianto, seorang petani asal Desa Ujungnegoro menambahkan, betapa sulitnya bertani sebelum mengenal bibit unggul tahan salinitas ini.
“Dulu karena air asin, pakai bibit biasa sering tidak jadi karena terlalu asin. Kalau pakai bibit ini agak lumayan, bisa tahan. Meskipun kalau ada air yang mendukung ya bisa panen bagus,” imbuhnya.
Menurutnya, pola perawatan padi biosalin, sebenarnya tidak jauh berbeda dari padi konvensional, sehingga mudah dipraktikkan di lapangan.
“Ya alhamdulillah, lumayan bagus. Terus kita merasa terbantu juga karena ada bantuan dari dinas. Pekerjaannya sekitar dua bulan lebih. Kendalanya tidak ada, cuma kekurangan air saja di sini,” tuturnya.
Keberhasilan panen perdana ini membangkitkan asa baru bagi masyarakat pesisir Batang.
Pemerintah Kabupaten Batang berharap uji coba ini dapat terus memperluas areal tanam padi biosalin di kawasan terdampak rob lainnya.
Langkah ini sekaligus menjadi fondasi kuat dalam menjaga ketahanan pangan daerah serta mendukung pencapaian target swasembada pangan berkelanjutan.
(Sumber: berita.batangkab.go.id)
