Berita  

HERBAL: Gandeng Jamaah Meracik Rempah, Berhasil Bikin Tujuh Minuman Herbal

Bermula dari cita-cita ingin memakmurkan masjid dan sekitarnya, pengurus Masjid Al-Kautsar di Bintaran Kulon, Srimulyo, Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menginisiasi sejumlah kegiatan wirausaha

Produk Minuman Herbal Masjid Al-Kautsar, Kabupaten Bantul, Yogyakarta (Sumber: bantulkab.go.id)
banner 120x600

Bantul, AGRINEWS – Bermula dari cita-cita ingin memakmurkan masjid dan sekitarnya, pengurus Masjid Al-Kautsar di Bintaran Kulon, Srimulyo, Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menginisiasi sejumlah kegiatan wirausaha.

Dari kegiatan ini, akhirnya lahirlah produk minuman herbal bernama Rempah Sangaji.

banner 325x300

“Kami ingin masjid tidak tangan di bawah, tidak bergantung pada infak. Yang ada, kami ingin masjid itu ya memberi,” ujar Tim Marketing Rempah Sangaji, Iki Tabah.

Ia menuturkan, Masjid Al-Kautsar, selama ini memiliki program kewirausahaan bagi jamaah.

Mayoritas peserta jamaah adalah laki-laki.

Bagi bapak-bapak yang belum bisa berbisnis, diajak untuk memproduksi minuman tradisional.

Kebetulan, ada salah satu jamaah yang telah lama berkecimpung di dunia jamu.

Ia dimintai bantuan untuk memformulasikan jamu, sekaligus melatih bapak-bapak mengolah rempah.

“Jamu sejatinya warisan budaya yang luar biasa. Cuma memang problemnya anak muda sekarang ini, tidak begitu akrab dengan jamu. Mungkin karena jamu tidak populer. Mungkin karena rasanya,” ungkap Iki.

Problem ini yang lantas menjadikan Rempah Sangaji untuk memproduksi jamu atau minuman tradisional dengan formula anyar.

Rasa yang digemari, tapi tetap berkhasiat.

Rempah Sangaji pertama kali diproduksi pada bulan April 2025.

Mulanya, Rempah Sangaji hanya memproduksi jahe rempah premium.

Kini, usai lima bulan beroperasi, Rempah Sangaji telah menghasilkan tujuh produk minuman herbal atau jamu.

Produk tersebut adalah jahe premium gula tebu, jahe premium gula aren, kunir asem, beras kencur, wedang bajigur, kopi rempah, dan minuman herbal khusus wanita.

Sejauh ini, proses produksi yang dilakukan Rempah Sangaji, masih berbasis rumahan.

Biasanya, mereka memproduksi satu kali sepekan dengan tenaga empat sampai lima orang.

Sekali produksi, Rempah Sangaji menggunakan 100 kilogram bahan rempah seperti jahe, kunyit, kencur, serai, kapulaga, jintan hitam, cengkeh, dan kayu manis.

Untuk pemasaran, Rempah Sangaji menggandeng takmir-takmir masjid di Piyungan dan sekitarnya.

Selain jaringan masjid, distributor dan reseller Rempah Sangaji sudah merambah ke beberapa luar kota seperti provinsi Lampung.

Iki Tabah mengingatkan, karena sejak awal salah satu tujuan Rempah Sangaji adalah untuk kemakmuran masjid, 30 persen keuntungan Rempah Sangaji, langsung masuk kas Masjid Al-Kautsar.

Laporan keuangan secara tertib dilaporkan setiap bulan.

Hal ini untuk menjaga kepercayaan jamaah yang mendukung berjalannya Rempah Sangaji.

(Sumber: bantulkab.go.id)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *