Sleman, AGRINEWS – Konsep Lumbung Mataraman sebagai wujud kearifan lokal Yogyakarta dalam menjaga ketahanan pangan, kembali dihidupkan secara nyata oleh masyarakat.
Sistem pertanian terpadu ini mengintegrasikan sektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, hingga pengembangan UMKM berbasis rumah tangga dengan filosofi utama “nandur sing dipangan, mangan sing ditandur” atau menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam.
Penerapan Lumbung Mataraman tidak hanya berfungsi sebagai lumbung hidup keluarga, tetapi juga berkembang menjadi sarana edukasi, agrowisata, serta penggerak ekonomi lokal berbasis desa.
Konsep ini terbukti mampu memperkuat kedaulatan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu contoh praktik nyata Lumbung Mataraman, ditunjukkan oleh Tri Supatno, petani kreatif asal Dusun Domban, Kelurahan Mororejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di lahan miliknya, ia mengelola pembibitan padi, budi daya edamame, peternakan entok, hingga kolam lele secara terintegrasi.
Pola pertanian terpadu tersebut membuat siklus panen berjalan berkelanjutan sepanjang tahun.
Menurut Tri Supatno, diversifikasi komoditas menjadi kunci agar pendapatan petani tidak bergantung pada satu musim atau satu jenis tanaman saja.
“Saya bisa memanen sayuran setiap hari, pepaya California setiap minggu, serta padi dan lele setiap dua sampai tiga bulan. Untuk mangga dan manggis, hasilnya bisa dinikmati setahun sekali. Dengan pola ini, ketersediaan pangan di rumah selalu aman dan sisanya menjadi nilai tambah ekonomi,” ujar Tri Supatno di kediamannya (11/1/2026).
Selain unggul dalam produksi, Tri Supatno juga menerapkan strategi pemasaran yang adaptif.
Setiap pukul 04.00 pagi, ia menjajakan hasil panennya di kios kecil Pasar Jalan Kaliurang.
Produk dikemas dalam ukuran kecil siap jual, sehingga pembeli tidak perlu menimbang atau menawar harga.
Inovasi tersebut membuat dagangannya kerap habis terjual sebelum pukul 06.00 pagi.
Nilai tambah juga diterapkan saat panen lele, di mana ikan dibersihkan dan dikemas rapi agar siap diolah, terutama untuk memudahkan ibu rumah tangga.
“Kenyamanan pembeli itu nomor satu. Lele saya bersihkan dulu, supaya praktis saat dimasak. Kalau ada sisa sedikit, tetangga pedagang biasanya ikut membantu menjualkan. Gotong royong membuat usaha jadi lebih ringan,” imbuhnya.
Praktik yang dilakukan Tri Supatno membuktikan bahwa Lumbung Mataraman bukan sekadar konsep, melainkan solusi nyata untuk mewujudkan kemandirian pangan, efisiensi usaha, dan peningkatan kesejahteraan keluarga petani melalui kerja keras, manajemen cerdas, dan nilai-nilai kearifan lokal.
(Sumber: infopublik.id)
