Home

KOPI: Original Qohwah, Jaga Liarnya Rasa Kopi Liberika dari Tanah Vulkanik Lumajang, Jawa Timur

Dari tanah vulkanik inilah, Original Qohwah lahir, membawa kopi liberika Lumajang dengan jati diri yang jujur dan apa adanya

Original Qohwah, Kopi Liberika dari Lumajang, Jawa Timur (Sumber: portalberita.lumajangkab.go.id)

Lumajang, AGRINEWS – Udara dingin pegunungan Lumajang, Jawa Timur, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang jatuh perlahan.

Di antara lanskap hijau yang membentang dari kaki Gunung Semeru hingga lereng Gunung Lemongan, tumbuh tanaman kopi yang belum banyak dikenal, namun menyimpan karakter kuat.

Dari tanah vulkanik inilah, Original Qohwah lahir, membawa kopi liberika Lumajang dengan jati diri yang jujur dan apa adanya.

Di tengah dominasi kopi arabika dan robusta yang sudah lama menguasai pasar, kopi liberika hadir sebagai anomali.

Ia tak menawarkan rasa yang mudah diterima semua orang.

Tapi justru di sanalah, daya tariknya.

Original Qohwah datang sebagai kopi hitam murni, tanpa kompromi, tanpa campuran, dan tanpa keinginan untuk menyesuaikan diri dengan selera pasar massal.

Saat diseduh, aroma nangka matang langsung menyeruak.

Wangi yang tidak lazim bagi sebagian penikmat kopi itu segera diikuti nuansa earthy, woody, dan sentuhan herbal yang tegas.

Rasanya tidak lembut, tidak pula manis.

Ia hadir dengan karakter liar yang seolah mengajak penikmatnya berdialog lebih dalam.

Kopi liberika memang dikenal memiliki kepribadian kuat.

Keasamannya rendah, body-nya tebal, dan after taste-nya panjang dengan kesan kayu terbakar.

Karakter inilah yang membuatnya kerap dianggap “keras” dan sulit diterima.

Namun, bagi mereka yang menyukai kopi hitam tanpa kompromi, liberika justru menghadirkan kejujuran rasa yang jarang ditemui.

Di balik Original Qohwah, adalah Abdul Rohman, warga Desa Bades, Kecamatan Pasirian.

Di usia 45 tahun, ia memilih jalur sunyi yang tidak banyak dipilih pelaku usaha kopi.

Ketika banyak orang mengejar varietas populer demi pasar yang lebih luas, Abdul justru memusatkan perhatiannya pada kopi liberika yang selama ini terpinggirkan.

Baginya, liberika bukan kopi kelas dua.

Ia hanya kopi yang belum banyak dipahami.

“Liberika punya karakter yang tidak dimiliki kopi lain. Rasanya tegas, aromanya kuat, dan jujur apa adanya,” ujar Abdul Rohman.

Secara khusus, ia memilih biji kopi dari lereng Gunung Semeru dan Gunung Lemongan.

Menurutnya, dua gunung berapi aktif dan purba itu, menjadi fondasi penting rasa Original Qohwah.

Tanah vulkanik yang kaya mineral, sisa-sisa abu letusan, dan iklim sejuk pegunungan menciptakan kondisi ideal bagi tumbuhnya kopi dengan karakter kuat.

Setiap panen adalah buah hasil dari kesabaran panjang.

Abdul bekerja sama dengan petani lokal yang masih setia merawat tanaman kopi liberika.

Tak ada proses yang instan.

Dari pemetikan buah merah, penjemuran, hingga sangrai, semua dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Baginya, kopi bukan sekadar komoditas ekonomi.

Ia adalah cerita tentang hubungan manusia dengan alam.

Karena itu, Original Qohwah dijaga kemurniannya.

Tidak ada tambahan perisa, tidak ada pencampuran dengan varietas lain, dan tidak ada jalan pintas untuk mempercepat produksi.

“Kopi ini kami jaga keasliannya. Prosesnya pelan-pelan, supaya karakter rasa alaminya tetap keluar. Kalau salah perlakuan, identitas kopinya bisa hilang,” ungkapnya (29/12/2025).

Keterbatasan produksi, justru menjadi kekuatan tersendiri.

Kopi liberika tidak dihasilkan dalam jumlah besar.

Banyak petani bahkan memilih menyimpannya untuk konsumsi sendiri.

Kelangkaan ini membuat Original Qohwah tidak diproduksi massal, tetapi dirawat sebagai produk bernilai.

Perjalanan Original Qohwah menuju pasar, juga tidak instan.

Ia tumbuh perlahan, dari mulut ke mulut, dari satu penikmat kopi ke penikmat lainnya.

Mereka yang mencari sensasi baru, pengalaman rasa berbeda, mulai melirik kopi liberika Lumajang ini.

Bagi para penikmat kopi kelas menengah ke atas, Original Qohwah bukan sekadar minuman.

Ia adalah cerita tentang tanah, tentang lereng gunung, tentang keberanian untuk berbeda, dan tentang kesetiaan pada karakter asli.

Kini, Original Qohwah dipasarkan dalam kemasan 200 gram hingga 500 gram.

Harganya tidak murah, tetapi sepadan dengan proses panjang dan konsistensi yang dijaga sejak awal.

Setiap kemasan membawa aroma tanah vulkanik dan kerja keras para petani di baliknya.

Di tengah arus globalisasi rasa dan selera instan, Original Qohwah memilih berdiri tegak dengan identitasnya sendiri.

Ia tidak berusaha menjadi kopi yang disukai semua orang.

Ia cukup menjadi kopi yang jujur pada asal-usulnya.

Dari lereng Gunung Semeru dan Gunung Lemongan, secangkir Original Qohwah menjadi simbol bahwa kekayaan lokal Lumajang tidak selalu harus berteriak keras untuk dikenal.

Ia cukup dirawat dengan keyakinan, konsistensi, dan kesabaran.

Kisah Original Qohwah adalah kisah tentang kopi liberika yang liar, tentang tanah vulkanik yang memberi kehidupan, dan tentang manusia yang memilih setia pada jati dirinya.

Setiap tegukan, tersimpan pesan bahwa karakter kuat tidak selalu lahir untuk menyenangkan semua orang, tetapi untuk diingat oleh mereka yang benar-benar memahami.

(Sumber: portalberita.lumajangkab.go.id)

Exit mobile version