Jepara, AGRINEWS – Usaha peternakan kambing di Desa Plajan dan Suwawal Timur, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kini mampu ekonomi warga.
Dari balik kandang-kandang kayu yang sederhana, tersimpan cerita tentang kegigihan dan kebersamaan para peternak, yang menggantungkan hidup pada kambing Jawa Randu.
Kambing Jawa Randu, adalah jenis kambing yang tangguh, cepat tumbuh, dan menghasilkan daging melimpah.
Bagi para peternak di dua desa ini, Jawa Randu bukan hanya komoditas, namun juga merupakan sumber harapan, rezeki, dan pengikat kebersamaan.
Ketua Kontak Tani Ternak (KTT) Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Hadi Purnomo menyatakan, tantangan datang setiap musim hujan, pakan terbatas, kesehatan ternak menurun, dan harga jual kadang tidak bersahabat.
Namun, pendampingan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), PPL, hingga BPKH Jawa Tengah membuat kelompok ini tetap bertahan.
Sistem pemerataan kesejahteraan pun diterapkan.
Setiap anggota memelihara dua indukan, dan hasil anakan disisihkan untuk kas kelompok.
Meski harga saat ini melemah – harga anak jantan empat bulan sekitar Rp1,5 juta dan betina tak sampai Rp500 ribu, perawatan tetap dilakukan dengan disiplin, yaitu dengan melakukan penggembalaan, pemberian pakan rutin, pembersihan kandang, hingga penanganan kesehatan dengan dokter hewan Jepara bila diperlukan.
“Jawa Randu itu dagingnya banyak, harga lebih terjangkau dibanding PE (peranakan etawa) yang harganya mahal, namun daging lebih sedikit,” ujar Hadi.
Menurut Hadi, bukan hanya ternaknya yang menggerakkan ekonomi, tetapi juga limbahnya.
Setiap anggota wajib menyetor satu sak limbah per bulan, untuk diolah menjadi pupuk organik.
Sementara itu, Ketua KTT Ayo Maju 2 di Suwawal Timur, Komari mengaku menghadapi kendala serupa, yakni penyakit gatal, pilek, batuk, dan gangguan mata.
Namun dengan pelatihan silase, teknik perawatan, hingga penyuntikan, kelompok ini mampu merawat 332 ekor Jawa Randu dan menjaga kas hingga Rp6 juta.
Saat harga anjlok, mereka memanfaatkan pemasaran online dan pengepul tetap.
Sedangkan untuk limbahnya, difermentasi menggunakan disinfektan dan tetes tebu selama 21 hari, sebelum menjadi pupuk siap pakai di sawah anggota.
Siklusnya sederhana, dari ternak kembali ke tanah, lalu memberi manfaat bagi pertanian desa.
Kepala DKPP Kabupaten Jepara, Mudhofir menambahkan, pembinaan dilakukan dari kelembagaan hingga pascapanen.
Monitoring rutin selalu dijalankan, karena tantangan peternakan muncul setiap saat.
“DKPP juga bersinergi dengan pemerintah pusat dan legislatif, agar program benar-benar menyentuh kebutuhan peternak,” ungkap Mudhofir.
Menurutnya, di lapangan, standar teknis diterapkan, misalnya, kandang ditinggikan 80 cm, ukuran ideal 2 kali 2 meter per ekor, pakan rumput gajah atau fermentasi daun singkong, serta perawatan rutin seperti obat cacing, vitamin, dan vaksin enam bulanan.
Meski harga pasar naik turun, kambing-kambing tetap dirawat dengan sepenuh hati, dari Plajan hingga Suwawal Timur.
(Sumber: jatengprov.go.id)
