KELAPA SAWIT: RPN-BPDP-Ditjenbun Perkuat Pengetahuan Pekebun

Peningkatan pengetahuan para pekebun melalui pelatihan teknis budidaya yang baik diharapkan dapat memperbaiki produktivitas kebun sawit rakyat.

Dr. Retno Diah Setiowati, M.Sc., peneliti dari PT RPN, salah satu pemateri pelatihan untuk para pekebun (Sumber: PT RPN)
banner 120x600

Medan, AGRINEWS – Sebanyak 126 pekebun asal Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit di Medan pada 13-19 September 2026.

Para peserta tidak hanya ditargetkan membawa pulang pengetahuan untuk kebun masing-masing. Mereka juga diharapkan menjadi penggerak yang menularkan pengetahuan dan teknologi kepada kelompok tani, keluarga, tetangga, hingga pekebun lain di daerah asal.

banner 325x300

Pesan tersebut disampaikan Dr. Agus Eko Prasetyo, Manajer Urusan Pelayanan Jasa Konsultasi, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)–PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), dalam Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit bagi pekebun Simalungun.

Menurut Agus, keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari jumlah peserta dan sertifikat yang diterima. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana pengetahuan yang diperoleh benar-benar diterapkan di kebun dan kemudian dibagikan kepada pekebun lainnya.

Integrasikan Pengalaman dan Pelatihan

Agus meminta peserta memanfaatkan pelatihan sebagai ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari solusi atas persoalan nyata yang mereka hadapi di kebun. Ia menilai, pengalaman lapangan para pekebun merupakan modal penting yang perlu dipadukan dengan pengetahuan, teknologi, dan informasi dari para narasumber.

“Manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya dan berdiskusi. Bapak, Ibu punya segudang pengalaman di daerah masing-masing. Kalau pengalaman itu diintegrasikan dengan kepakaran, pengetahuan, dan informasi dari para narasumber, mudah-mudahan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas di kebun masing-masing,” jelas doktor Ilmu Hama alumnus Faperta UGM tersebut.

Ia mengingatkan, materi pelatihan jangan berhenti di ruang kelas. Peserta perlu memilih teknologi dan pengetahuan yang sesuai dengan kondisi kebun, kemudian menerapkannya secara konsisten.

Ilmu Harus Sampai ke Kebun

Menurut Agus, 126 peserta yang mengikuti pelatihan merupakan bagian dari pekebun yang mendapat kesempatan untuk memperkuat kapasitasnya. Karena itu, pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada masing-masing peserta.

“Bapak, Ibu yang hadir di sini adalah yang terpilih dari sekian banyak petani di Simalungun. Ilmu yang diperoleh mohon ditularkan kepada petani-petani di kelompok maupun wilayah Bapak, Ibu sekalian,” sarannya.

Pesan tersebut membuka peluang terbentuknya efek berantai pengetahuan. Satu peserta dapat menerapkan ilmu di kebunnya, membagikan pengalaman kepada anggota kelompok tani, lalu berkembang ke keluarga, tetangga, dan pekebun lain.

Dengan demikian, manfaat pelatihan dapat menjangkau lebih banyak pekebun dibandingkan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan secara langsung.

Dari Peserta Menjadi Penggerak

Peningkatan produktivitas sawit rakyat, kata Agus, membutuhkan dukungan teknologi sekaligus sumber daya manusia yang mampu menerapkannya.

Pengetahuan tentang pemupukan, pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma dan organisme pengganggu tanaman hingga pemanenan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing kebun.

Peserta pun diharapkan dapat menjadi contoh penerapan praktik budidaya yang lebih baik. Ketika teknologi yang diterapkan memberikan hasil, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi pekebun lain.

“Jangan berhenti pada ilmu pengetahuan. Jangan hanya hadir mengikuti pelatihan, mendapatkan materi dan sertifikat. Informasi dan teknologi yang diberikan silakan dipilih mana yang relevan dan cocok digunakan di kebun masing-masing, kemudian diterapkan,” imbuh ahli serangga penyerbuk kelapa sawit itu.

Seusai pelatihan, pekebun diharapkan menyebarkan pengetahuannya ke pekebun lainnya di daerah asal (Sumber: PT RPN)

Menularkan Pengetahuan, Mendorong Produktivitas

Efek berantai pengetahuan tersebut diharapkan ikut memperkuat produktivitas perkebunan rakyat di Simalungun.

Perubahan diharapkan dimulai dari hal-hal yang dapat dilakukan di tingkat kebun, seperti penerapan praktik budidaya yang lebih baik, penggunaan teknologi yang tepat, serta perbaikan pengelolaan tanaman.

Dari penerapan di kebun, pengetahuan dan pengalaman tersebut kemudian dapat dibagikan kepada pekebun lain. Dengan cara ini, peningkatan kapasitas sumber daya manusia diharapkan berkembang dari peserta pelatihan ke komunitas pekebun yang lebih luas.

Perkuat SDM Pekebun

Pelatihan teknis budidaya kelapa sawit tersebut diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementan.

RPN menyampaikan apresiasi kepada BPDP, Ditjenbun, serta Dinas Pertanian tingkat provinsi dan Kabupaten Simalungun yang mendukung penyelenggaraan program.

Melalui program ini, peningkatan kapasitas pekebun diharapkan tidak berhenti pada 126 peserta. Dengan semakin banyak pengetahuan yang diterapkan dan ditularkan, diharapkan semakin luas pula dampaknya terhadap praktik pengelolaan kebun, produktivitas, dan pendapatan pekebun sawit rakyat di Simalungun.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha