ENERGI HIJAU: Diam-diam Pertamina Sudah Jualan SAF

Ketika pasar bioavtur domestik masih tertutup, perusahaan pelat merah ini menggarap pasar mancanegara yang telah terbuka.

Joko Pranoto (paling kanan), Pertamina siap untuk melayani mandatori SAF 1% tahun depan (Sumber: Peni Sari Palupi)
banner 120x600
Biji bisa menghasilkan minyak 30%-50% (Sumber: Peni Sari Palupi)
Bibit pongamia/malapari dari okulasi dan setek bisa berbuah dalam dua tahun (Sumber: Peni Sari Palupi)

Jakarta, AGRINEWS – Upaya pengurangan emisi karbon (dekarbonisasi) dalam transportasi udara dilakukan dengan pemanfaatan bahan bakar pesawat berkelanjutan (bioavtur) atau sekarang lebih sering disebut sustainable aviation fuel (SAF). Penggunaan SAF mengeluarkan emisi 81% lebih rendah ketimbang avtur fosil.

Negara-negara Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat tercatat telah memanfaatkan SAF. Mandatori SAF di Uni Eropa menetapkan mininum 2% mulai 2025 dan terus meningkat sampai 70% pada 2050. Inggris juga menerapkan aturan yang setara, hanya saja targetnya baru sampai 2040 sebanyak 18,5%.

banner 325x300

Singapura menetapkan target SAF 1% tahun depan. Demikian pula pemerintah Indonesia berencana mewajibkan penggunaan SAF 1% pada 2027.

Seiring tren tersebut, Dimas H. Pamungkas, Kasub Divisi Riset dan Advokasi Kebijakan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), mengungkap, permintaan dunia akan SAF diperkirakan melonjak hingga 515 juta ton pada 2050.

SAF Indonesia

Jauh sebelum pemerintah mewajibkan pemakaian SAF tahun depan, Pertamina telah melakukan uji produksi dan uji terbang dengan pesawat komersial sejak 2021. Bahan bakunya (feedstock) adalah minyak jelantah (used cooking oil-UCO) yang diproses menggunakan katalis Pertamina.

“Kami memproduksi SAF di pabrik co-processing di Cilacap, Jateng, dengan kapasitas 8.000 barel per hari. Di Dumai juga sudah diuji coba, berhasil dengan kapasitas 21.000 barel per hari. Ini dapat memenuhi kebutuhan SAF sampai 3%.

November atau paling lambat Desember, kami akan uji coba di Balongan (Indramayu) dengan target 9.000 barel per hari. Jadi, untuk melayani mandatori SAF1% sampai 2029 cukup dari pabrik yang ada.

Sementara untuk mandat SAF 5% yang rencananya pada 2030, kami sudah siapkan pabrik biorefinery baru di Cilacap,” papar Joko Pranoto, Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga di acara Indonesia EBTKE ConEx, 3 September 2026 di Jakarta.

Sejauh ini suplai SAF di pasar global masih terbatas. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan, suplai SAF 2026 hanya 2,4 juta ton atau 0,8% dari total avtur yang digunakan.

Karena itu, menurut Joko, Pertamina memproduksi SAF untuk melayani ekspor saat maskapai domestik belum mau membeli. Apalagi harganya menggiurkan, 3-12 kali lipat avtur konvensional.

“Per hari ini kami sudah jualan SAF melalui bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai, sudah ada kontrak untuk penerbangan keluar negeri. Jumlahnya tahun ini kurang lebih 6.000 KL. November, rencana akan kamia suplai via bandara Juanda. Ketika nanti mandat dari pemerintah sudah keluar tahun depan SAF 1%, insyaallah kami ready,” ujar Joko mantap.

Bahan Baku Nonpangan

Bahan baku SAF yang diakui ICAO dibagi dalam tiga kategori, yakni produk primer, produk ikutan, produk sampingan, residu, limbah pertanian, dan lemak hewan.  Semuanya harus memenuhi syarat rendah emisi karbon.

Menurut Dhimas, Indonesia sudah punya sawit, kelapa, minyak jelantah, dan sejak November 2025 minyak Palm Oil Mill Effluent (POME). Menurutnya, SAF dari minyak POME perlu digarap serius karena potensinya besar, 0,76% – 2,88% dari total tandan buah segar (TBS) yang diolah.

“Dari potensi volume TBS nasional sebanyak 256 juta ton per tahun, maka jika diasumsikan dari 1.386 unit Pabrik Kelapa Sawit rata-rata minyak POME yang dapat di-recovery sebanyak 1%, maka diperoleh 2,5 juta ton minyak POME. Ditambah UCO, PFAD (hasil samping minyak sawit), dan limbah lainnya, Indonesia berpotensi menghasilkan 2 juta – 3 juta KL SAF,” ungkapnya dalam acara workshop Biodiesel Februari silam.

Masih ada satu bahan baku SAF lagi adalah pongamia (Pongamia pinnata) alias malapari. Tanaman asli Indonesia yang tersebar luas di wilayah pesisir ini berpotensi besar sebagai penghasil biodiesel, SAF, dan bioplastik. Biji tanaman nonpangan tersebut mengandung minyak 30%-50%. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menghasilkan klon unggul bernama Makrosan.

Di Australia, pongamia mulai dikebunkan. ABC News mengabarkan, Rio Tinto, perusahaan tambang raksasa Australia, menanam pongamia pada 2025 sebanyak 8.000 batang di Semenanjung Gove, Northern Territory dekat lokasi tambang bauksitnya. Mereka juga menanam 75.000 batang lainnya di areal seluas 3.000 ha di Townsville, Queensland.

Tujuannya untuk mempelajari pertumbuhan pongamia dan kemungkinan produksi biodiesel di masa mendatang. Sebelumnya Rio Tinto memproduksi biodiesel dari UCO dan memanfaatkannya untuk bahan bakar kendaraan di rantai pasoknya.

Ecopha Bio, perusahaan di Moorabbin, Victoria, Australia, menyediakan bioteknologi yang mampu memproduksi SAF dan bioplastik berbahan pongamia. Hasilnya sudah diakui di India, bahkan memenangkan India SAF Award 2026 dalam kategori Best SAF Feedstock Solutions.

Indonesia bisa lebih serius mengembangkan pongamia untuk memproduksi SAF dan bioplastik dengan teknologi Ecopha. Dua tujuan sekaligus dapat dicapai, berkontribusi menurunkan emisi karbon di transportasi udara dunia sekaligus mengatasi polusi akibat plastik berbahan minyak bumi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha