Batang, AGRINEWS – Limbah jagung pascapanen maupun tanaman yang gagal panen akibat penyakit, sering kali hanya dibuang atau dibiarkan menumpuk di ladang oleh para petani.
Padahal, jika dikelola dengan teknik yang tepat, limbah tersebut menyimpan potensi besar untuk disulap menjadi pakan ternak alternatif bernilai gizi tinggi.
Menanggapi kondisi ini, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro (Undip) menggelar pelatihan inovasi pakan bagi kelompok tani dan peternak di Desa Kluwih, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, pada hari Selasa (11/8/2026).
Kegiatan pelatihan yang dipusatkan di kediaman Sarjono, diprakarsai Faris Ananta Fauzan, mahasiswa Program Studi Peternakan Undip.
Edukasi ini merupakan wujud nyata program multidisiplin KKN yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), utamanya pada pencapaian SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Faris mengatakan, metode ini dikenal dengan istilah silase, yakni pengawetan hijauan pakan ternak melalui fermentasi anaerobik (tanpa udara) dengan bantuan bakteri asam laktat.
Proses fermentasi ini mengubah karbohidrat yang larut menjadi asam laktat, sehingga memicu penurunan pH hingga kisaran 3,8–4,2.
“Kondisi asam inilah yang secara efektif menghambat mikroba pembusuk. Hasilnya, kandungan nutrisi utama seperti protein, energi, dan serat tetap terjaga utuh. Silase dapat disimpan dalam waktu lama tanpa kehilangan kualitas gizi, serta proses absorpsi dan degradasinya di dalam rumen ternak ruminansia sangat aman,” ujarnya.
Antusiasme warga Desa Kluwih, terlihat jelas saat sesi demonstrasi berlangsung.
Interaksi berjalan dua arah dan sangat aplikatif.
Sejumlah peternak juga langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar efisiensi pembuatan pakan tersebut di lapangan.
“Tidak hanya persoalan takaran, warga juga mengonfirmasi hal-hal teknis terkait manajemen pemberian pakan. Warga menanyakan apakah pakan hasil fermentasi ini memerlukan masa adaptasi saat pertama kali diberikan kepada ternak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, menjelaskan strategi pengenalan pakan asam ke ternak yang belum terbiasa, serta teknik menutup kembali wadah penyimpan (silo) agar tetap kedap udara sehingga sisa pakan di dalamnya tidak membusuk.
“Inovasi ini dinilai memberikan keuntungan ganda bagi masyarakat Desa Kluwih. Peternak mendapatkan stok pakan alternatif untuk mengantisipasi krisis pakan di musim kering, sementara kebersihan lahan pertanian tetap terjaga guna memutus siklus penyebaran penyakit pada tanaman,” imbuhnya.
Sinergi antara mahasiswa dan warga desa ini diharapkan mampu menginspirasi wilayah lain di Kabupaten Batang untuk menerapkan prinsip pertanian terpadu yang berkelanjutan.
(Sumber: berita.batangkab.go.id)
















