Bogor, AGRINEWS – Mandatori pemanfaatan SAF di Indonesia baru akan berlaku pada 2027. Pertamina, satu-satunya produsen SAF, mengandalkan minyak goreng bekas (jelantah) atau biasa disebut Used Cooking Oil (UCO) sebagai bahan baku utama.
Pada 2029, kemungkinan Pertamina juga akan memanfaatkan minyak Palm Oil Mill Effluent (POME) dari limbah pabrik kelapa sawit (PKS) untuk memproduksi SAF.
Indonesia kaya akan biomassa yang berpotensi menjadi bahan bakar nabati (BBN). Beberapa di antaranya tidak termasuk bahan pangan sehingga pemanfaatannya tidak mengganggu ketahanan pangan nasional. Sebaliknya, tanaman seperti pongamia (Pongamia pinnata) alias malapari, dapat meningkatkan ketahanan energi.
Riset Pongamia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan penelitian tentang potensi pongamia. Para peneliti BRIN melaksanakan eksplorasi sejak 2009-2024. Mereka juga menanam pohon induk yang berasal dari delapan daerah, yakni Bangka, Carita (Pandeglang), Batukaras (Pangandaran), Alas Purwo (Banyuwangi), Bali, Maluku Utara, Dompu, dan Sumbawa Besar (NTB).
Bermodalkan pohon-pohon induk tersebut, mereka melakukan seleksi dan menghasilkan klon unggul yang diberi nama Makrosan. Klon unggul dengan kandungan minyak minimal 20% ini mulai ditanam pada November 2024.
BRIN menjalin kerja sama penelitian dengan perusahaan swasta untuk memproduksi bibit yang diperbanyak secara vegetatif. Bibit ini dapat mulai berbuah umur dua tahun.
Penelitian BRIN tentang pongamia sebagai BBN baru dimulai 2026. Jadi, bisa dibilang belum tersedia paket lengkap teknologi pengolahan pongamia yang mapan.
Satu Teknologi, Dua Produk Utama
Untuk mengusahakan dalam skala luas, perlu teknologi untuk mengolah pongamia menjadi biodiesel, SAF, bioplastik, dan ampasnya mungkin sebagai pakan ternak. Selain itu, bioekonomi pongamia membutuhkan pembeli produk akhir.
Ecopha Biotech, perusahaan berbasis di Moorabbin, Victoria, Australia, menyediakan bioteknologi untuk mengolah biji pongamia menjadi dua produk sekaligus, yakni SAF dan bioplastik.
Dr. Wilson Ling, CEO dan Co-founder ECOPHA Biotech, mengungkap, lembaganya fokus pada pengembangan bahan-bahan ramah lingkungan, inovasi, kemitraan, dan solusi berkelanjutan dengan dukungan penelitian, keberlanjutan, dan kolaborasi global.
Perusahaan ini menjalin kemitraan global untuk pengembangan pongamia antara lain di India, China, Bhutan, Italia, Thailand, Amerika Serikat, Sri Lanka, dan Indonesia.
Menurut Dadang Gusyana, mitra ECOPHA Indonesia, di sini mereka berfokus mentransformasi bahan baku terbarukan nonpangan menjadi material berkelanjutan, bahan kimia bernilai tinggi, serta bahan bakar penerbangan (SAF).
“Kami akan membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis pongamia. Empat hal yang sedang kami kerjakan, pertama adalah Pembentukan Struktur Legal dan Kemitraan Lokal: Mendirikan entitas Special Purpose Vehicle (SPV) untuk mengamankan alokasi modal khusus, integrasi dengan mitra lokal, serta keterlibatan regulasi di dalam negeri.
Kedua, Pengembangan Riset Bahan Baku (feedstock): Melakukan riset mendalam dan menyiapkan fondasi budidaya tanaman Malapari (Pongamia) di Indonesia. Minyak dari biji tanaman nonpangan ini menjadi bahan baku utama teknologi mereka.
Ketiga, Pengajuan Paten Teknologi (PCT): Mendaftarkan paten internasional (PCT) untuk proses produksi bersama (co-produce) antara oleokimia (bahan kimia berbasis minyak nabati) dan bioplastik berbasis polihidroksialkanoat (PHA) langsung dari minyak pongamia.
Keempat, Edukasi Bahaya Mikroplastik: Memulai kampanye kesadaran publik di Indonesia mengenai pentingnya beralih ke teknologi bioplastik laut-aman (marine-safe) guna memutus rantai polusi mikroplastik yang merusak organ tubuh,” papar praktisi bioteknologi alumnus Universitas Padjadjaran ini.
Produksi Bioplastik dan SAF Secara Komersial
Masih menurut Dadang, dalam jangka panjang Ecopha Indonesia membidik target memproduksi bioplastik (EcoPHA) dan SAF secara massal. “Plastik alternatif ini ditargetkan mendominasi pasar pada tahun 2030 karena sifatnya yang dapat terurai penuh di tanah maupun lingkungan perairan dalam hitungan bulan tanpa meninggalkan mikroplastik beracun,” jelas konsultan pupuk hayati ini.
Untuk menggarap pasar SAF, baik di tingkat regional maupun global, pihaknya juga akan mengelola rantai pasok minyak Pongamia di Indonesia sampai menjadi SAF.
Proses produksi dua produk utama tersebut akan menerapkan biomanufaktur canggih berbasis kecerdasan buatan (AI) dan kimia hijau untuk mengoptimalkan efisiensi ekstraksi tanaman menjadi bahan siap pakai di pabrik-pabrik lokal.
“Ecopha Indonesia juga akan membangun Hub Bioekonomi Regional dengan menjadikan infrastruktur pertanian dan komersial di Indonesia sebagai supply chain bervolume besar yang menghubungkan inovasi teknologi dari Australia dengan kebutuhan pasar bahan terbarukan dunia,” pungkas Dadang.
