Bogor, AGRINEWS – Untuk memperkuat ketahanan energi nasional, pemerintah meningkatkan bauran minyak sawit ke dalam solar fosil menjadi biodiesel sejak 2014. Jumlah bauran tersebut terus meningkat dari 10% (disebut B10), B15, B20, B30, B35, B40, lalu B50 yang resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto, 9 Juli 2026 di Karawang, Jabar.
Pelaksanaan program mandatori biodiesel menyerap lebih banyak minyak sawit mentah (CPO) untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, menurut Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), semakin besar porsi mandatori untuk pemenuhan pasar dalam negeri, maka akan berimplikasi menekan volume ekspor.
“Devisa dari pajak ekspor dan bea keluar berkurang, mempengaruhi harga minyak goreng di dalam negeri, dan berdampak pada harga tandan buah segar (TBS) petani,” ungkapnya dalam media gathering “B50 Strategi Indonesia Menjadi Kekuatan Energi Sawit Dunia” di Bogor (10/6).
Potensi Pongamia
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap sawit, pemerintah bersama swasta mengembangkan tanaman lain sebagai sumber bahan baku energi terbarukan (EBT) yang bukan sumber pangan. Salah satu kandidat kuatnya adalah Pongamia (Pongamia pinnata) atau nama lokalnya di Indonesia, malapari, kranji, ki pahang laut, dan kibesi pantai.
Dadang Gusyana, founder pusat informasi, www.pongamiaindonesia.com, membeberkan tiga keunggulan malapari alias pongamia.
“Tanaman ini secara alami tumbuh di Indonesia dan tersebar luas antara lain di pesisir pantai Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Maluku. Sifatnya tahan banting, mampu tumbuh di lahan kritis, seperti lahan gambut telantar dan areal bekas tambang.
Sebagai bahan baku EBT, bijinya mengandung minyak mentah sebanyak 30%-50%, yang dapat dikonversi menjadi biodiesel berkualitas tinggi, bahkan bioavtur,” jelas ahli nutrisi tanaman dan konsultan beberapa perusahaan ini.
Selain itu, lanjut dia, pongamia termasuk tanaman polong-polongan. Akarnya membentuk bintil yang mampu mengikat nitrogen dari udara sehingga dapat membantu mengembalikan kesuburan tanah dan menstabilkan lahan terpolusi.
Dari Empat Provenan
Saat ini sejumlah peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji aspek budidaya, pengolahan, sosial ekonomi juga lingkungan. Dr. Aam Aminah, M.Si., yang mulai meneliti sejak 2009 semasa berdinas di Litbang Kementerian Kehutanan berfokus pada aspek agronomi dan perbanyakan bibitnya.
Aam dan tim Kemenhut telah melakukan eksplorasi di Sumatra dan Jawa. “Hasil eksplorasi 2009 dari lima wilayah benih (provenan), yakni Bangka, Mataram (NTB), Carita (Pandeglang), Batukaras (Pangandaran), dan Alas Purwo (Banyuwangi), kami tanam di Parungpanjang (Bogor). Tapi demplot yang asal Mataram terbakar, tersisa dari empat provenan,” ujar Aam pada acara Expo Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (OHRL) 2026 di Gedung ICC, Kawasan Sains dan Teknologi Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno, Cibinong, Bogor (8/7).
Masih menurut Aam yang pindah ke BRIN sejak 2022, timnya menanam calon pohon induk tersebut pada 2011, 2015, 2022, dan 2024. Penanaman 2024 berasal dari Bali, Maluku Utara, Dompu dan Sumbawa Besar (NTB).
Dari hasil penanaman tersebut, dilakukan seleksi mencakup postur tanaman, produktivitas buah polong, dan rendemen minyak. Selanjutnya, tanaman dengan rendemen minyak di atas 20% diperbanyak secara vegetatif melalui teknik okulasi dan setek untuk melahirkan klon unggul. Setelah melalui seleksi, lahirlah klon unggul yang diberi nama Makrosan.
Agar penelitian bisa berkelanjutan, BRIN bekerja sama dengan pihak swasta, seperti PT Santi Energi Hijau, Pertamina, Rumah Tani Nusantara, juga perusahaan dari Jepang dan Australia.
Makrosan
Bibit Makrosan yang dipamerkan dalam bentuk setek dan okulasi. Aam menganjurkan, bibit dipindah tanam ke lahan saat umur 5-6 bulan dengan jarak tanam 6 m x 6 m. Namun untuk sumber benih bisa lebih rapat, 3 m x 3 m.
“Dalam umur dua tahun mulai berbuah. Lama pembentukan buah sampai matang 6 bulan. Buah tua ditandai dengan bintik-bintik hitam pada kulitnya. Buah/polong dipanen saat ini masih manual tetapi di Australia pekebun sudah menggunakan shaker (penggoyang pohon),” ulas alumnus Fahutan IPB University ini.
Tentang produktivitas, tanaman yang dibudidayakan di kebun induk baru berumur 4 tahun menghasilkan 10 kg/batang. Sementara, menurut Maman Herman, peneliti Pusat Riset Perkebunan, dalam Botani Talk Series BRIN (18/2) menyebut, produksi biji 9-90 kg/pohon/tahun dengan minyaknya 0,225-2,25 ton/ha. Umurnya bisa di atas 50 tahun, lebih dua kali lipat umur produktif kelapa sawit.
