Rembang, AGRINEWS – Pemerintah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mendorong pengembangan bawang merah sebagai salah satu komoditas hortikultura potensial untuk memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan pendapatan petani.
Kecamatan Sumber menjadi salah satu wilayah yang mulai menunjukkan potensi pengembangan, termasuk melalui budi daya bawang merah menggunakan benih atau biji yang tengah dikembangkan petani setempat.
Dalam dua tahun terakhir, komoditas bawang merah menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan.
Selain didukung kondisi lahan yang sesuai, petani setempat juga mulai menerapkan teknologi budi daya dan memiliki pemahaman mengenai pengendalian hama serta penyakit tanaman.
Manajer Brigade Pangan Sumber Sejahtera, Alif Fachrijal Rosyid mengatakan, hasil panen bawang merah di wilayahnya tergolong baik. Harga jual di tingkat petani juga relatif stabil.
“Untuk bawang merah yang sudah melalui proses pengeringan dan pemotongan daun, saat ini dibeli pedagang dengan harga sekitar Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Di tingkat pasar bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram,” ujarnya (11/8/2026).
Alif yang juga menjadi petani bawang merah ini mengatakan, budi daya bawang merah memiliki sejumlah tantangan.
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan tanam.
Selain itu, petani harus mempersiapkan kebutuhan produksi sejak awal, mulai dari benih, pupuk, hingga obat-obatan tanaman.
Menurutnya, serangan hama dan penyakit menjadi salah satu tantangan yang membutuhkan perhatian khusus.
“Tantangan terberat biasanya serangan hama dan penyakit, seperti ulat, kutu, tungau, dan thrips. Karena itu perawatan harus intensif, termasuk penyemprotan secara berkala,” ungkapnya.
Saat ini, petani di Kecamatan Sumber mulai mengembangkan metode budi daya bawang merah menggunakan benih atau biji, selain metode yang selama ini lebih umum menggunakan umbi.
Pengembangan tersebut masih dalam tahap pembelajaran dan uji coba.
Namun, hasil awal yang diperoleh menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan.
“Kalau menggunakan benih, potensi hasilnya bisa mencapai 15 hingga 20 ton per hektare. Saat ini kami masih dalam tahap pengembangan dan pembelajaran, tetapi hasil awal cukup menjanjikan,” imbuh Alif.
Menurutnya, pengembangan budi daya dari benih tidak terlepas dari pendampingan penyuluh pertanian serta Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang.
Pemanfaatan teknologi pertanian juga mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi usaha tani. Salah satunya penggunaan drone untuk membantu proses penyemprotan tanaman.
“Drone yang kami gunakan berasal dari bantuan Brigade Pangan. Awalnya untuk tanaman padi, tetapi saat musim kemarau kami manfaatkan untuk bawang merah dan hasilnya cukup efektif,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto menambahkan, potensi pengembangan hortikultura, khususnya bawang merah, masih terbuka lebar.
Menurutnya, bawang merah memiliki prospek pasar yang cukup baik dan berpeluang menjadi salah satu komoditas yang memperkuat ekonomi pertanian di wilayah Pantura.
“Potensi hortikultura utamanya bawang merah ini terus berkembang di Kabupaten Rembang. Prospek pasarnya juga relatif bagus. Selama ini kita masih sangat bergantung pada daerah Brebes dan Tegal. Karena itu, untuk wilayah Pantura kami berupaya agar Rembang menjadi salah satu daerah penghasil bawang merah,” ujarnya.
Selain Kecamatan Sumber, pengembangan bawang merah juga mulai terlihat di Kecamatan Kragan, Bulu, serta sejumlah wilayah lainnya.
Pemkab Rembang berharap luas tanam bawang merah dapat terus bertambah seiring meningkatnya minat petani, termasuk dari kalangan petani muda.
Berdasarkan data Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dintanpan Kabupaten Rembang, pada 2025 luas panen bawang merah mencapai 118 hektare dengan total produksi 11.226 kuintal.
Produktivitas rata-rata mencapai 95,14 kuintal per hektare.
(Sumber: rembangkab.go.id)
















