Home

Masih Menarikkah Beternak Puyuh Petelur di Tahun 2026?*

Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, telur puyuh juga memiliki pasar yang cukup luas, mulai dari angkringan, warung makan, UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), industri katering, hingga berpotensi menjadi salah satu sumber protein

Beternak Puyuh Petelur (Sumber: akun linkedin.com: Aulia Ahmadi)

Jakarta, AGRINEWS – Di tengah meningkatnya kebutuhan protein hewani, usaha ternak puyuh petelur kembali menjadi perhatian.

Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, telur puyuh juga memiliki pasar yang cukup luas, mulai dari angkringan, warung makan, UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), industri katering, hingga berpotensi menjadi salah satu sumber protein untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah.

Lalu bagaimanakah gambaran sederhana usaha ini?

Sebagai simulasi, dalam populasi 1.000 ekor puyuh petelur:

• Mulai bertelur pada umur 40–45 hari.
• Masa produktif bertelur 18 bulan.
• Hen Day Production (HDP) 85%, artinya dari 1.000 ekor puyuh, rata-rata dihasilkan 850 butir telur setiap hari.
• Berat telur sekitar 10 gram
• Konsumsi pakan sekitar 23 gram/ekor/hari.
• Harga telur Rp27.000/kg.
• Harga pakan Rp7.500/kg.
• Seluruh pekerjaan dilakukan sendiri.

𝐈𝐧𝐯𝐞𝐬𝐭𝐚𝐬𝐢 𝐀𝐰𝐚𝐥

Total investasi diperkirakan sekitar Rp19,5 juta, dengan komposisi:

Pulet siap produksi: Rp12 juta (61,5%)

Kandang baterai: Rp6,5 juta (33,3%)

Peralatan (wadah pakan dan minum): Rp1 juta (5,2%)

𝐏𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧

Dengan HDP 85%, produksi mencapai sekitar 255 kg telur per bulan.

Sumber pendapatan terdiri atas:

Penjualan telur: Rp6.885.000 (97,9%)

Penjualan kotoran: Rp150.000 (2,1%)

Total pendapatan sekitar Rp7.035.000 per bulan.

𝐁𝐢𝐚𝐲𝐚 𝐎𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥

Struktur biaya menunjukkan bahwa pakan merupakan komponen yang paling dominan.

Pakan: Rp5.175.000 (83,8%)

Vitamin, obat, listrik, air, dan penyusutan: Rp1.000.000 (16,2%)

Total biaya operasional sekitar Rp6.175.000 per bulan.

HPP telur per kg: Rp24.215

Dengan asumsi tersebut, laba operasional diperkirakan sekitar 𝐑𝐩860.000 per bulan, atau margin laba bersih sekitar 12%.

Selain penjualan telur, peternak juga memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan kotoran sebagai pupuk organik, karung bekas pakan, serta penjualan puyuh afkir pada akhir masa produksi.

𝐑𝐢𝐬𝐢𝐤𝐨 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐫𝐥𝐮 𝐃𝐢𝐩𝐞𝐫𝐡𝐚𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧

Dibalik peluang tersebut, puyuh merupakan unggas yang relatif sensitif.

Mudah mengalami stres akibat suara bising, perubahan lingkungan, maupun kehadiran orang yang tidak dikenal.

Gejala penyakit sering kali sulit dikenali pada tahap awal.

Jika terjadi outbreak, penyebaran penyakit dapat berlangsung sangat cepat dan berpotensi menyebabkan kematian dalam jumlah besar.

Fluktuasi harga pakan dan harga telur sangat memengaruhi keuntungan karena sekitar 84% biaya operasional berasal dari pakan.

𝐊𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧

Usaha puyuh petelur masih memiliki prospek yang baik, seiring permintaan alternatif lauk protein yang terus meningkat. Namun, keberhasilan usaha ini tidak hanya ditentukan oleh harga telur.

Produktivitas yang tinggi, efisiensi penggunaan pakan, biosekuriti yang ketat, serta kemampuan membangun pasar merupakan faktor yang menentukan keberlanjutan usaha.

*Aulia Ahmadi, Alumni Fapet UGM, Market Intelligence Feed & Poultry (Sumber: linkedin.com)

Exit mobile version