Magelang, AGRINEWS – Para petani kopi di lereng Gunung Merbabu, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memperluas perkebunan kopi lewat tradisi manual dan mekanis (21/1/2026).
Mereka membuka lahan tanpa membakar.
Konservasi itu pula yang membuat kopi Arabika Sawangan, berkualitas premium di pasaran.
Lokasi penanaman bibit kopi seluas satu hektare, diawali dengan menapaki jalan setapak kecil menuju lokasi di puncak lahan bukit terasering.
Para tamu undangan juga berjalan kaki menuju lokasi lahan baru milik Pandi, salah satu anggota Kelompok Tani Nongko Jajar, Dusun Windusabrang, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang itu.
“Alhamdulillah, di desa kami ada penambahan tanam, yang khusus satu kelompoknya ada 10 hektare. Sedangkan di Desa Wonolelo, sudah mencapai 25 hektare,” ujar Ketua Kelompok Tani Nongko Jajar, Sukimin di acara tersebut.
Latar belakang Gunung Merapi dan panorama indah di sekitar lokasi, menambah khidmat lantunan doa selamatan tradisi wiwit tandur (mengawali tanam) kopi ini.
Prosesi itu, merupakan ikhtiar dan harapan para petani Kelompok Tani Nongko Jajar agar hasil panen kopi melimpah, tanpa kendala, sehingga menambah sumber ekonomi.
“Dengan adanya ini, petani menjadi lebih maju dan lebih semangat untuk menanam kopi, sehingga harapannya menjadi ikon kopi yang punya ciri khas tersendiri di desa Wonolelo,” ungkapnya.
Menurut Sukimin, dari penambahan luasan di Wonolelo saat ini di kisaran 25 hektare, namun total luas lahan yang tercatat di Desa Wonolelo, mencapai hampir 75 hektare.
Beberapa petani juga menerapkan pola tumpang sari antara tanaman kopi dengan tanaman hortikultura agar mendapat laba berlipat di saat harga kopi meningkat.
Sukimin mencontohkan, pada musim panen raya tahun lalu, harga panen kopi Arabika Wonolelo cenderung lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk untuk green bean (kopi basah) mencapai Rp160.000, paling rendah Rp140.000-Rp160.000.
Sedangkan harga ceri (biji kopi kering), bisa mencapai Rp14.000-Rp15.000.
“Hasil panen untuk tahun 2025 itu, dari seri itu, ada kurang lebih 21 ton untuk yang kita olah di kelompok kami,” imbuh Sukimin.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan menambahkan, keberadaan kopi Arabika di Kabupaten Magelang saat ini mencapai luas 1.075 hektare.
Tahun 2026 ini, ditargetkan bertambah seluas 150 hektare.
Khusus untuk Desa Wonolelo, pada tahun 2025 sebanyak 75 hektare.
Hasil panen kopi robusta per musim di kisaran 2.000 ton, sedangkan arabika 141 ton.
“Dimana pada tahun 2025 untuk Desa Wonolelo, kita alokasikan bantuan pengembangan Arabika dari dana APBN seluas 25 hektare,” tutur Romza di lokasi penanaman.
Bagi Romza, adat wiwit tandur oleh Kelompok Tani Nongko Jajar ini, menjadi salah satu langkah pengembangan kopi Arabika di Kabupaten Magelang.
Upaya lain, adalah mendorong ekosistem usaha kopi lewat Koperasi Manunggal Sejahtera.
Koperasi itu menjadi wadah para petani meningkatkan ekonominya.
Saat ini, Distan Pangan Kabupaten Magelang juga gencar mengembangkan kopi Arabika di daerah-daerah dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl, meliputi lereng Gunung Merapi, Merabu, Sindoro, Sumbing, Telomoyo, dan Andong.
“Ini selain untuk tanaman konservasi lahan, juga nantinya konsep kami adalah konservasi yang hasilnya memberikan nilai ekonomi tinggi,” pungkas Romza.
Sebagai puncak tradisi wiwit tandur kopi, digelar penanaman ratusan bibit kopi oleh para petani, Kepala Desa Wonolelo M. Marpomo, perwakilan Pemerintah Kecamatan Sawangan, Pengelola Teknis Kebijakan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Muhsoni, Head PMO Hilirisasi PT Perkebunan Nusantara IX (PTPN) Tarwo Giyono, serta petugas penyuluh lapangan Distan Pangan Kabupaten Magelang
Rangkaian prosesi, ditutup dengan kembul bujono atau makan bersama nasi tumpeng, ayam ingkung, jenang merah putih, dan jajanan hasil bumi setempat.
(Sumber: beritamagelang.id)
