KELAPA SAWIT: Naikkan Produktivitas, Kementan Melepas Serangga Penyerbuk Baru

Introduksi serangga penyerbuk bernama Elaeidobius kamerunicus asal Kamerun dari Malaysia pada 1983 meningkatkan pembentukan buah (fruit set) kelapa sawit secara signifikan di Indonesia, dari 44% menjadi 75%.

1. Seremoni pelepasan serangga penyerbuk baru dihadiri antara lain: Winarna (Kepala PPKS), Ebi Rulianti (berhijab, Direktur Perbenihan Perkebunan), Pengurus GAPKI (Eddy Martono, M. Hadi Sugeng, Dwi Asmono) (Sumber: GAPKI)
banner 120x600

Simalungun, AGRINEWS – Introduksi serangga penyerbuk bernama Elaeidobius kamerunicus asal Kamerun dari Malaysia pada 1983 meningkatkan pembentukan buah (fruit set) kelapa sawit secara signifikan di Indonesia, dari 44% menjadi 75%.

Menurut Dr. Cahyo Sri Wibowo, Wakil Ketua Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia (PIPSI) dalam acara ISGANO 2025 di Bandung, setelah berkembang lebih dari 1.000 generasi di Indonesia, kinerja E. kamerunicus tersebut menurun.

banner 325x300

“Nilai fruit set berfluktuasi dan cenderung rendah di beberapa daerah di Indonesia dan Malaysia. Bahkan nilainya di bawah 30%,” ungkap Cahyo yang juga SVP Research and Development PT Astra Agro Lestari Tbk. ini.

Elaeidobius subvittatus, salah satu spesies penyerbuk baru (Sumber: PPKS)

Salah satu inovasi untuk meningkatkan pembentukan buah adalah mengintroduksi serangga penyerbuk yang baru. Sejumlah anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan ke Kementan agar mendatangkan serangga penyerbuk baru dari Tanzania. Kementan menyetujui usulan GAPKI tersebut.

Resmi Dilepas

Dengan melibatkan Komisi Agens Hayati, Badan Karantina Indonesia, Badan Pengelola Dana Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, PT Riset Perkebunan Nusantara, dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, proses introduksi dimulai sejak Agustus 2024.

Setelah melalui tahapan eksplorasi dan perbanyakan spesies terpilih di Tanzania sejak 5 Januari 2025, serangga tersebut dimasukkan ke Indonesia untuk diteliti lebih jauh di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Marihat, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara.

Tiga spesies yang terpilih adalah Elaeidobius kamerunicus, E. subvittatus, dan E. plagiatus. Penelitian di Indonesia berlangsung sejak April – November 2025.

Menteri Pertanian diwakili Ebi Rulianti, Direktur Perbenihan Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementan, melepas secara resmi serangga penyerbuk baru itu di Marihat, 9 April 2026.

“Kita belajar dari sejarah bahwa inovasi kecil bisa membawa dampak besar. Kita menandai langkah strategis ini dalam keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga ini sangat mampu menurunkan cost dalam produksi sawit,” kata Ebi dalam seremoni pelepasan serangga penyerbuk di Simalungun yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT GAPKI ke-45.

Alumnus Magister Manajemen Agribisnis UGM tersebut menegaskan, seluruh proses introduksi sudah melalui tahapan ilmiah dan regulasi yang sangat ketat serta dapat dipertanggungjawabkan. “Mulai eksplorasi dari negara asal, kemudian pengujian yang komprehensif ini melibatkan Komisi Agens Hayati juga Kementerian dan Lembaga. Dari seluruh pengujian tersebut menunjukkan bahwa spesies yang diintroduksi memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Langkah yang kita ambil ini adalah kebijakan berbasis sains, terukur, dan tetap menjujung tinggi prinsip kehati-hatian,” papar Ebi.

Sementara Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menilai, momentum ini sebagai simbol kesinambungan inovasi. “Ini bukan hanya soal serangga, tetapi tentang bagaimana kita menjaga masa depan industri sawit Indonesia,” ujarnya.

Ketiga spesies penyerbuk dari kelompok kumbang tersebut telah melalui serangkaian pengujian ilmiah dan dinyatakan aman untuk dikembangkan. Karena itu ia berharap, mereka dapat memperkuat sistem penyerbukan sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem perkebunan.

Serangga penyerbuk yang berukuran beberapa milimeter ini meningkatkan pembentukan buah sawit (Sumber: GAPKI)

Menurut Eddy, pelepasan serangga ini juga merupakan ruang refleksi masa depan industri sawit nasional. Upaya memajukan industri ini sangat bergantung pada kemampuan menggabungkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kolaborasi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *