Home

KELAPA SAWIT: Harapan Baru dengan Trio Serangga Baru

Penyerbukan yang tidak optimal, salah satu biang keladi produktivitas rendah kelapa sawit. Introduksi serangga baru menjadi salah satu solusinya.

Sumber: Dr. Agus Eko Prasetyo

Jakarta, AGRINEWS – Tanaman kelapa sawit membentuk bunga jantan dan betina di ketiak pelepah berbeda dan mekar dalam waktu yang tidak bersamaan. Karena itulah bunga sawit butuh bantuan agar polen (serbuk sari) bunga jantan dapat menyerbuki putik bunga betina sehingga terbentuk buah.

Tanpa penyerbukan, buah terbentuk tanpa cangkang biji (partenokarpi) yang rendemen minyaknya sangat rendah.

Meningkat sampai 75%

Sawit (Elaeis guineensis) asal Afrika Barat pertama ditanam di Indonesia pada 1911. Kedatangannya tidak menyertakan serangga penyerbuk dari lingkungan aslinya. Di sini hanya mengandalkan angin dan serangga lokal, yakni Thrips hawaiiensis dan Pyroderces sp., keberhasilan pembentukan buah (fruit set) rata-rata hanya 37%.

Lalu pekebun mempraktikkan penyerbukan dengan bantuan manusia (assisted pollination). Hasilnya lebih tinggi, tetapi biayanya mahal.

Menurut Agus Eko Prasetyo, peneliti senior proteksi tanaman di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, pada 1980 Malaysia mendatangkan 400 ekor serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus dari Kamerun, Afrika. Serangga berupa kumbang ini hanya hidup dan berkembang pada tanaman sawit. Pembentukan buah terbukti meningkat signifikan

Masih menurut Pras, sapaannya, Indonesia lalu mendapat hibah dari Malaysia pada Agustus 1982 sebanyak 508 kumbang itu. Setelah melalui pengujian dan karantina, kumbang dilepas 26 Maret 1983 dan disebarkan ke Sumatra, Jawa, Sulawesi, Papua (1983-1987), Seram (2013), dan Halmahera (2017).

“Setelah satu-dua tahun pelepasan, fruit set meningkat hingga lebih dari 75%. Pekebun juga meniadakan praktik assisted polination tiga-empat tahun pascapelepasan,” ungkap alumnus S3 Ilmu Pertanian UGM 2026 itu dalam acara RPN Insight yang digelar PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), 8 Juli silam.

Fruit Set Rendah Meluas

Selama 25 tahun, permasalahan fruit set rendah hampir tidak ada. “Baru awal 2007, PPKS mendapatkan laporan perdana kasus fruits set rendah. Puncaknya pada 2010-2012 cukup masif di areal-areal dengan tanaman muda yang baru menghasilkan di daerah pengembangan baru, seperti Kalimantan. Fruit set sangat rendah, 5%-10% sehingga buah tidak layak masuk ke pabrik,” beber Pras lebih jauh.

Satu setengah dekade belakangan ini, lanjut dia, kasus tersebut tidak hanya terjadi di areal baru tetapi juga di daerah yang sudah lama berkembang, seperti Sumatra. Pakar menghubungkannya dengan kinerja kumbang E. kamerunicus yang menurun akibat tekanan perkawinan sedarah (inbreeding) selama 42 tahun dan telah membentuk 1.000 generasi.

Selain itu, fruit set dipengaruhi kurangnya populasi bunga jantan di kebun yang terbawa dari genetik bahan tanaman dan perubahan lingkungan.

Di luar berbagai inovasi untuk meningkatkan penyerbukan dengan E. kamerunicus, para pakar dan pelaku usaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersepakat Indonesia perlu mengintroduksi serangga penyerbuk baru.

Dari Tanzania

Dengan pembiayaan riset dari Konsorsium Serangga GAPKI dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), tim mengajukan proposal introduksi penyerbuk baru dari Tanzania ke Kementan, 26 Agustus 2024. Perizinan diteken 7 Februari 2025 oleh Komisi Agens Hayati dilanjutkan eksplorasi ke Tanzania 4 Januari-3 April 2025.

Riset ini melibatkan PT RPN, Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia (PIPSI), Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI), dan Badan Karantina Indonesia serta Tanzania Agricultural Research Institute.

Agus Eko Prasetyo, tiga spesies diharapkan membentuk kompleks polinator (Sumber: Tangkapan Layar)

“Di sana ada tujuh spesies Elaeidobius dari delapan yang dilaporkan menghasilkan fruit set rata-rata lebih dari 73%,” ujar Pras  yang ikut ke Tanzania, dalam ajang Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) di Jakarta, 20 Juli 2026.

Tim memilih tiga spesies, yakni E. kamerunicus, E. subvittatus, dan E. plagiatus. Alasan utamanya, konsisten mengunjungi bunga jantan dan betina, tidak saling berkompetisi, berbeda morfologinya sehingga saling melengkapi, dan aktif saat pagi, siang hari, sore hari.

Pada 4 April 2025, sebanyak 6.000 individu diterbangkan ke Medan lalu dibawa ke Insektarium PPKS Unit Marihat untuk karantina dan pengujian hingga 30 Januari 2026.

“Selama 10 bulan, serangga diuji kemurnian, efektivitas, dan keamanannya. Serangga ini terbukti bukan sebagai alien spesies invasif, melainkan alien spesies terkelola. Kekhususan inangnya tinggi, hanya bertelur, berkembang, dan hidup stabil di bunga jantan kelapa sawit. Tidak membawa patogen karantina, interaksi antarspesies stabil.

Dan yang penting, meningkatkan penyerbukan sawit sehingga layak dikembangkan di perkebunan sawit Indonesia dengan monitoring berkelanjutan,” terang Manajer Urusan Pelayanan Jasa Konsultasi dan Pelatihan PPKS PT RPN ini.

Akhirnya, pemerintah resmi melepas trio penyerbuk baru tersebut di kebun Marihat PTPN IV Regional 2, 9 April lalu. Jumlahnya 7.000 ekor dengan rincian 3.000 ekor E. kamerunicus, 3.000 ekor E. subvittatus, dan 1.000 ekor E. plagiatus.

Sampai 12 Mei 2026, sebanyak 150 ribu ekor Elaeidobius spp. telah didistribusikan ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi mencakup 9 provinsi dan lebih dari 27 titik pelepasan dilengkapi tempat pengembangbiakan. Di setiap titik dilakukan pemantauan.

“Dampaknya baru bisa kita lihat paling tidak enam bulan karena proses penyerbukan sampai buah siap panen butuh waktu enam bulan. Kita tidak mengganti kamerunicus, tetapi membangun kompleks polinator seperti di Tanzania. Setelah satu sampai dua tahun kita bisa memperoleh hasilnya. Semoga menghasilkan fruit set nasional yang lebih baik,” harap pemegang 9 paten ini.

Exit mobile version