Wisata  

Jalan-Jalan ke Kampung Bebek, di Dusun Tawangsari, Kejapanan Kebanjiran, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur….

Untuk menghasilkan telur asin yang berkualitas, Umar mengaku memberikan pakan yang istimewa, yakni kepala udang. Alasannya karena mengandung tinggi protein dan memberikan efek daya tahan tubuh pada bebek-bebek yang ia ternak

Kampung Bebek di Dusun Tawangsari, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Sumber: pasuruankab.go.id)
banner 120x600

Pasuruan, AGRINEWS – Dusun Tawangsari, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sejak dulu hingga kini, dikenal sebagai Kampung Bebek.

Meski jumlah peternaknya mulai berkurang, namun sedikitnya ada 30 orang yang masih bertahan sebagai pembudidaya bebek yang menghasilkan telur asin berkualitas dan punya ciri khas tersendiri.

banner 325x300

Salah seorang peternak bebek, sekaligus Kepala Dusun (Kasun) Tawangsari adalah Umar Faruq.

Umar Faruq mengaku sudah bergelut di dunia peternakan bebek mulai tahun 1997.

Sebelum sukses seperti saat ini, ia mulai memproduksi telur asin dengan membudidaya 50-100 ekor bebek yang ia dapatkan dari sekitar Kejapanan maupun Sidoarjo.

“Dulu ya masih dikit, karena masih nabung untuk beli bebek yang banyak,” ujar Umar saat ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya pada hari Kamis (20/8/2026).

Kini, Umar punya lebih dari 800 ekor bebek yang ia tempatkan di beberapa kandang dengan ukuran yang cukup luas, tepat bersebelahan dengan tempat tinggalnya di RT 3 RW 16.

Kandang-kandang itu sebagian memang miliknya, namun sebagian lainnya menyewa pada salah satu keluarganya.

“Ada yang kandang saya sendiri, tapi sebagian sewa milik bulek (bibi – red.) saya,” ujarnya.

Untuk menghasilkan telur asin yang berkualitas, Umar mengaku memberikan pakan yang istimewa, yakni kepala udang.

Alasannya karena mengandung tinggi protein dan memberikan efek daya tahan tubuh pada bebek-bebek yang ia ternak.

Selain itu, pembelian kepala udang jauh lebih efisiensi ketimbang membeli pakan konsentrat.

“Kalau pakan konsentrat per sak harganya Rp 530 ribu, tapi kalau kepala udang satu blong sekitar 120 kilogram harganya Rp120 ribu. Lebih terjangkau dan gizinya lebih banyak,” ungkapnya.

Umar mengatakan, telur asin yang ia produksi memiliki cita rasa khas tersendiri.

Warnanya oranye, rasanya kuat ke udang dan masir.

Pembuatannya tanpa bahan pengawet, aman dikonsumsi dan mampu bertahan maksimal hingga dua pekan lamanya..

“Rasanya masir sekali dan warnanya oranye segar,” imbuhnya.

Dari seluruh produk produk telur asin dari kampung bebek ini, Umar menjelaskan bahwa pemasarannya paling banyak ke sekitaran Pasuruan, Sidoarjo dan Surabaya.

Namun, permintaan pengiriman ke Hongkong, seringkali ia terima.

“Pernah beberapa kali pengiriman ke Hongkong, ya ada orang Indonesia yang cocok dengan telur asin saya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kejapanan, Rendi Saputra mengaku telah menjadikan dusun ini sebagai wisata edukasi Kampung Bebek.

Sasarannya pelajar dan mahasiswa, seringkali menjadi jujukan untuk pelatihan dan studi.

“Selain sebagai wisata edukasi kampung bebek, di dusun ini tahun sekarang akan kami bangun semacam gapura. Menjadi penanda kampung bebek dan dianggarkan dari Dana Desa,” ujarnya.

Rendi mengatakan, sejak adanya program Makan Bergizi Gratis, para peternak bebek kebanjiran rejeki nomplok, bahkan seringkali kewalahan.

“Karena satu SPPG saja bisa order sampai 2.800 telur asin. Ada 30 an peternak dari Kelompok Unggas Harapan Kita, dan alhamdulillah sampai sekarang tetap bertahan,” pungkasnya.

(Sumber: pasuruankab.go.id)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha