INOVASI: GeO-Fert Pertamina Geothermal Energy Bantu Petani Kamojang Hasilkan 70 Ton Kubis

Panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik tetapi juga bisa mempercepat produksi pupuk organik yang bermanfaat untuk mendongkrak produktivitas tanaman sayuran.

Dengan GeO-Fert, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang panen 70 ton kubis (Sumber: PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.)
banner 120x600

Kabupaten Bandung, AGRINEWS – Seratus tahun lalu, potensi panas bumi di Kamojang yang terletak di perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung, Jabar, ditemukan. Pemanfaatannya terus berkembang hingga kini Kamojang termasuk salah satu pusat pengembangan energi panas bumi nasional yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGE).

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan, PGE Area Kamojang mengembangkan Geothermal Organic Fertilizer atau GeO-Fert. Inovasi ini memanfaatkan ekses uap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang bersuhu sekitar 60o–70°C untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga sekitar 14 hari dapat dipangkas menjadi sekitar 12 jam.

banner 325x300

Produktivitas Meningkat, Biaya Turun

Inovasi tersebut sangat bermanfaat bagi para petani sayuran, khususnya kentang dan kubis di wilayah Kamojang. Dengan GeO-Fert, mereka dapat mengolah limbah organik menjadi pupuk organik dalam waktu jauh lebih singkat ketimbang cara konvensional.

Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung bersama PGE Area Kamojang memanfaatkan GeO-Fert untuk budidaya kubis varietas Granova. Kegiatan yang dinamai HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert) ini digelar sepanjang September 2026 dengan mengusung tema “Dari Panas Bumi, Tumbuh untuk Masa Depan Berkelanjutan”.

Petani mengaplikasikan sekitar 30 ton pupuk GeO-Fert pada lahan seluas 1,2 hektar. Pupuk organik padat diberikan pada tahap awal sebelum penanaman, sementara pupuk organik cair diaplikasikan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya.

Mereka berhasil memanen 70 ton kubis berukuran relatif besar. Beberapa berukuran 6 kg/buah, sedangkan rata-rata kubis lokal sekitar 3 kg/buah. Panen tersebut menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta. Penggunaan GeO-Fert dapat menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.

Ukuran kubis 6 kg/buah (Sumber: PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.)

Bagi petani, angka tersebut bukan sekadar hasil panen. Di baliknya, ada perjalanan panjang dalam mengolah limbah untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mencari solusi atas tantangan biaya produksi dan ketersediaan pupuk.

Beyond Electricity

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan, inovasi ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan panas bumi di luar pembangkitan listrik atau Beyond Electricity.

“Pencapaian teman-teman petani dalam memanen 70 ton kubis varietas Granova menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, terlebih pada tahun ketika kita memperingati satu abad pengembangan panas bumi nasional.

Selama ini, panas bumi memang lebih dikenal sebagai sumber listrik. Namun lewat GeO-Fert, panas bumi juga hadir membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani. Itulah semangat Beyond Electricity yang terus kami dorong supaya manfaat panas bumi bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Pertamina sampaikan bantuan program ke KTH Cikondang (Sumber: PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.)

Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni menimpali, “Manfaat GeO-Fert ini bukan cuma bisa memproduksi pupuk sendiri, tapi juga melihat limbah yang tadinya tidak terpakai bisa dimanfaatkan kembali untuk lahan. Dari sana, pupuk GeO-Fert bisa membantu menyuburkan tanah dan mendukung hasil panen para petani.”

Sebelumnya, pada April 2026, PGE Area Kamojang bersama masyarakat juga melaksanakan Panen Raya Kentang GeO-Fert HAREPAN. Dari lahan sekitar 4.200 m2, produktivitas pada lahan dengan GeO-Fert mencapai 7.581 kg dibandingkan sekitar 4.525 kg dengan metode konvensional.

Biaya produksi kentang juga turun dari sekitar Rp73,1 juta per tahun menjadi Rp49,5 juta per tahun, atau hemat sekitar Rp23,5 juta per tahun. GeO-Fert kini juga dimanfaatkan untuk budidaya beberapa komoditas lain, termasuk cabai, tomat, dan labu siam.

Bagi petani kubis Hendro Gunawan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pertanian juga perlu tumbuh bersama inovasi.

“Tantangan pertanian sekarang adalah bagaimana kita bisa bersahabat dengan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Kita perlu terus membuka mata dan berinovasi. Kolaborasi panas bumi dengan pertanian menjadi salah satu contoh nyata. Jadi, pertanian bukan hanya soal pengetahuan turun-temurun, tetapi juga tentang inovasi, hasil, dan bukti nyata,” ujarnya.

 Alirkan Manfaat, Tumbuhkan Kemandirian

General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan, HAREPAN memperlihatkan bagaimana pemanfaatan panas bumi dapat terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Hari ini, kita melihat bagaimana energi panas bumi dapat terhubung dengan pengelolaan limbah organik dan pertanian hingga menghasilkan panen yang memberikan nilai tambah bagi petani. Panen kubis ini menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan bersama masyarakat dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi produktivitas maupun efisiensi usaha tani,” ujarnya.

GeO-Fert merupakan bagian dari pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang turut diperkuat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri berkapasitas 6,6 kWp dan baterai 20 kWh. Melalui ekosistem ini, energi bersih, pengelolaan limbah, dan kegiatan produktif masyarakat dikembangkan secara terintegrasi.

Pada HAREPAN, masyarakat Kamojang juga memperkenalkan sejumlah produk hasil pengembangan program pemberdayaan PGE Area Kamojang, antara lain keripik hasil bumi dari KWT Srikandi Gayatri Lestari Kamojang dan teh daun kopi dari Kelompok GCP yang dikembangkan menggunakan dehydrator.

Selain itu, ada juga ikan asin dan pakan ikan dari Kelompok Budidaya Ikan Mekarjaya Kamojang yang dikeringkan menggunakan Geothermal Dry House.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha