Home

CABAI: Ketika Bupati Dicegat Mbah Saminem, Mau Serahkan Cabai dan Jipang…

Mengenakan kain jarik yang melintang di pundaknya, sang perempuan langsung menggenggam erat tangan Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong itu.

Bupati Temanggung, Agus Setyawan Dicegat Nenek (Sumber: temanggungkab.go.id)

Temanggung, AGRINEWS – Hari sudah senja ketika dua orang lansia laki-laki dan perempuan, berjalan sedikit tertatih menembus kerumunan warga.

Keduanya melewati sebuah ekskavator berwarna biru yang terparkir di tengah jalan Dusun Prupuk, Desa Purborejo, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (3/7/2026).

Meski ragu, mereka nekat melangkah maju untuk menghentikan langkah kaki Bupati Temanggung, Agus Setyawan.

Mengenakan kain jarik yang melintang di pundaknya, sang perempuan langsung menggenggam erat tangan Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong itu.

Ia kemudian melonggarkan kain selendangnya, lalu menyodorkan sebuah kantong kresek kecil berisi cabai dan jipang, hasil petikan ladang sendiri untuk dihadiahkan kepada Bupati.

Niki awit saking remene kulo kalih kakek’ane, bilih mergi niki ajeng didandosi amargi sampun dangu risak. Menawi merginipun sae lak sekeco kagem warga, kagem tiang tani kados kulo, kagem sedoyo. (Ini saking senengnya saya sama kakek karena jalannya mau diperbaiki, sebab sudah lama rusak. Kalau jalannya bagus kan enak buat warga, buat petani seperti kami, dan untuk semua orang),” ujarnya seraya berseloroh, bahwa sayuran tersebut akan sangat nikmat, jika dimasak bersama koro.

Aksi spontan pasangan suami-istri petani, Sawal (77) dan Saminem (73) itu seketika menyedot perhatian warga.

Karena saat itu, Bupati Agus baru saja bersiap melakukan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek penanganan longsegment jalan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2026.

Proyek bernilai belasan miliar rupiah ini menyasar lima ruas jalan strategis, termasuk jalur Parakan–Bansari yang melintasi desa tersebut.

Kepala Desa Purborejo, Andhika menegaskan, aksi warganya tersebut merupakan bentuk rasa syukur yang tak terbendung setelah penantian panjang sejak belasan tahun lalu.

Masyarakat menyambut acara peletakan batu ini dengan tradisi selametan berupa makan bersama nasi tumpeng secara lesehan beralas daun pisang.

“Jalan ini belum pernah diperbaiki sejak tahun 2010. Pengusulan sudah dilakukan sejak 2015 dan baru terealisasi sekarang. Acara slametan ini sengaja digelar warga sebagai wujud syukur, agar proses perbaikan jalan berjalan lancar dan hasilnya awet,” imbuh Andhika lega.

(Sumber: temanggungkab.go.id)

Exit mobile version