ASOSIASI: Menuju GPPU Baru, dari Pembibit ke Arsitek Industri

Peserta Kongres XIV Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) memberikan amanat kepada Asrokh Nawawi dan jajarannya untuk mewujudkan peran baru pembibitan sebagai arsitek industri perunggasan nasional.

Dirjen PKH Agung Suganda (nomor 4 dari kiri) dan Ketum GPPU Asrokh Nawawi (nomor 5 dari kiri) bersama jajaran pengurus BPP GPPU 2026-2030 seusai pengukuhan (Sumber: Peni Sari Palupi)
banner 120x600

Tangerang Selatan, AGRINEWS – Kongres GPPU XIV berlangsung pada 22-23 Juli 2026 di Hotel Double Tree, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, ini merampungkan tiga agenda penting: pemilihan pengurus baru periode 2026-2030, peluncuran buku 55 Tahun GPPU, dan seminar nasional.

Mitra Strategis

banner 325x300

Pada hari pertama, para peserta kongres yang terdiri dari perwakilan 37 anggota GPPU bersepakat memberikan amanat kepada Asrokh Nawawi untuk menggantikan Achmad Dawami sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) GPPU. Dokter hewan alumnus FKH UGM 2001 ini menjabat Ketua IV dalam kepengurusan sebelumnya.

Berikut jajaran BPP GPPU 2026-2030:

– Ketum: Asrokh Nawawi (Sido Sari Multifarm, PT)

– Ketua I: Dimas C. Insani (Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT)

– Ketua II: Demas Dambo (Malindo Feedmill Tbk, PT)

– Ketua III: Widarsono (Hybro Indonesia, PT)

– Ketua IV: M. Nurul Fauzi (Charoen Pokphand Jaya Farm, PT)

– Ketua V: Wahyu Nugroho Santosa (Universal Agri Bisnisindo, PT)

– Sekjen : Tri Mahawijaya Herlambang (Widodo Makmur Unggas Tbk, PT)

– Wakil Sekjen: Agoes Haryoko (Charoen Pokphand Jaya Farm, PT)

– Bendahara: Yustinus Pramudya (Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT)

Jajaran pengurus baru tersebut dikukuhkan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si., pada 23 Juli 2026.

“Momentum pengukuhan dan kongres GPPU bukan hanya seremonial tapi merupakan sarana untuk memperkuat fondasi yang menentukan arah organisasi, meningatkan profesionalisme, dan meneruskan agenda-agenda strategis serta memperkokoh peran GPPU sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan industri perunggasan nasional,” ujar Agung.

Dirjen menegaskan, pembibitan merupakan fondasi utama industri perunggasan nasional. Perencanaan kapasitas produksi ayam dan telur akan sangat ditentukan oleh data jumlah bibit induk yang akan masuk yang nantinya akan menjaga keseimbangan supply dan demand. Selanjutnya keseimbangan ini akan mempengaruhi harga serta ketersediaan daging dan telur di sisi hilir.

Kepada jajaran pengurus baru, Agung menyampaikan setidaknya tiga pesan penting. Pertama, teruslah memperkuat tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan berintegritas.

Kedua, membangun suatu sistem digitalisasi data dan informasi terkait dengan pembibitan agar data yang diterima pemerintah valid sehingga pengambilan kebijakan tidak terlalu jauh menyimpang dari kondisi riil.

Ketiga, mewujudkan industri perunggasan nasional yang sehat, lebih efisien, lebih berdaya saing, dan berkelanjutan.

 

 

Kiri ke kanan: Arif Widjaja, Jemmy Wijaya, Krissantono, Agung Suganda, Bram Sebstian, Achmad Dawami, Asrokh Nawawi, Dewa Putu Sumerta menerima  buku 55 Tahun GPPU  (Sumber: Peni Sari Palupi)

Peran Arsitek

Mengutip data BPS, industri unggas pada 2025 memproduksi daging ayam sebanyak 4 juta ton lebih dari populasi 3,3 miliar ekor. Sementara produksi telur ayam ras 6,3 juta ton dari populasi 426 ribu ekor. Industri unggas ras ini menghasilkan perputaran uang senilai Rp700 triliun/tahun. Hingga sekarang, unggas mendominasi pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia.

Ketua Umum GPPU periode 2022-2026 Achmad Dawami menyampaikan, pembibitan bukan sekadar aktivitas menghasilkan DOC. Pembibitan adalah titik awal seluruh rantai nilai industri perunggasan.

“Di era modern, sektor pembibitan juga dituntut untuk terus beradaptasi melalui penerapan teknologi genetika, digitalisasi manajemen breeding, peningkatan biosekuriti, serta penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan kesejahteraan hewan (animal welfare).

Kemampuan industri pembibitan dalam berinovasi akan sangat menentukan keberhasilan. Ketika sektor hulu kuat, seluruh rantai industri akan tumbuh lebih sehat dan berdaya saing,” ulas alumnus Fapet UGM yang telah 40 tahun lebih berkecimpung di industri unggas.

Sementara itu, Asrokh Nawawi, Ketua Umum GPPU periode 2026-2030 menambahkan, sebagaimana seorang arsitek, merancang bangunan dengan memperhatikan kekuatan fondasi, keseimbangan struktur, dan keberlanjutan fungsinya. Demikian pula perusahaan pembibitan mengemban tanggung jawab strategis dalam merancang masa depan perunggasan Indonesia.

Setiap keputusan yang diambil sektor pembibitan hari ini akan menentukan kondisi industri beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan. Karena itu peran GPPU ke depan tidak hanya menghasilkan bibit unggul berkualitas tetapi juga menjaga keseimbangan produksi nasional meliputi keberlangsungan usaha peternak, menciptakan iklim usaha yang sehat, serta memastikan ketersediaan potein hewani yang aman, bermutu, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Namun, membangun industri perunggasan nasional bukanlah hanya tugas GPPU. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan. Oleh sebab itu, GPPU berkomitmen untuk mendorong terciptanya industri perunggasan inklusif yang memberikan ruang tumbuh bagi peternak rakyat, koperasi, UMKM, perusahaan terintegrasi serta seluruh pelaku usaha dari hulu hingga hilir.

Di sisi lain, kita juga harus membangun industri yang adaptif dan dinamis terhadap perdagangan internasional, fluktuasi harga bahan baku, ancaman penyakit hewan, perubahan iklim serta disrupsi teknologi yang menuntut kita untuk terus berinovasi, meningkatkan efisiensi dan memperkuat daya saing.

Kami menegaskan, GPPU akan senantiasa menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional serta peningkatan konsumsi protein hewani masyarakat. GPPU siap mendukung berbagai program pemerintah mulai dari penguatan ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan peternak, pengembangan hilirisasi peternakan hingga pencapaian visi Indonesia Emas 2045,” pungkas Asrokh.

Sebelum prosesi pengukuhan, momentum peringatan 55 tahun GPPU ditandai dengan peluncuran buku “Dari Hulu Untuk Ketahanan Pangan”. Buku ini berisi perjalanan 55 tahun kiprah GPPU dalam membangun keberlanjutan industri perunggasan Indonesia.

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha