Magelang, AGRINEWS – 500 petani muda di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berkumpul di Lapangan Cakra Buana, Desa Krangean, Kecamatan Ngablak (29/6/2026).
Mereka mendapatkan pembekalan pengetahuan dan keterampilan, akses terhadap teknologi pertanian modern yang berkelanjutan, serta wawasan untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi digital melalui program Better Life Farming (BLF) yang dijalankan Bayer Indonesia.
Para petani berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Magelang, terutama kawasan penghasil sayur-mayur seperti Kecamatan Ngablak, Sawangan, Dukun, hingga Muntilan.
Mereka dipertemukan dengan para pemangku kepentingan pendukung usaha tani, seperti perbankan, produsen sarana dan prasarana pertanian, serta kelompok tani unggulan yang menjadi percontohan penerapan teknologi pertanian.
Arum Wulandari, warga Subleman, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, salah seorang petani yang mengikuti kegiatan tersebut mengatakan, kaum muda seperti dirinya tertarik menjadi petani karena pendapatan yang diperoleh masih menjanjikan.
“Bekerja sebagai petani tidak terikat waktu. Kami bisa mengatur sendiri jam kerja, dan yang terpenting hasilnya juga cukup menjanjikan, tidak kalah dengan bekerja sebagai karyawan,” ujarnya.
Menurut Arum, petani muda di lingkungannya kini telah banyak memanfaatkan teknologi dalam mengolah lahan sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien.
Ia mencontohkan, pengolahan tanah kini tidak lagi menggunakan cangkul, melainkan traktor dengan berbagai jenis sesuai kebutuhan.
Selain itu, alat penyemprot hama kini sudah menggunakan mesin elektrik, sedangkan sistem pengairan memanfaatkan mesin diesel maupun kincir elektrik.
Perempuan berusia 26 tahun itu mengaku tidak malu menjadi petani.
Bahkan, Arum dengan bangga membagikan aktivitasnya mengelola tanaman sayuran melalui media sosial.
“Di lingkungan saya mulai banyak petani muda yang juga menjadi kreator konten. Kami membuat konten tentang kegiatan sehari-hari sebagai petani. Bahkan, ada yang sudah memperoleh penghasilan tambahan dari konten dan program afiliasi,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Krangean, Wardoyo menambahkan, di wilayahnya saat ini petani didominasi oleh kalangan muda.
Kesadaran untuk terjun ke dunia pertanian tumbuh karena orang tua mereka juga berprofesi sebagai petani.
“Di sini ada sekitar 120 KK (kepala keluarga), sekitar 70 persen diantaranya merupakan petani. Kebanyakan adalah petani muda yang terbuka terhadap perkembangan teknologi maupun inovasi, mulai dari pengendalian hama hingga pengolahan lahan secara berkelompok,” ujar Wardoyo.
Menurutnya, forum pertemuan para pemangku kepentingan pendukung usaha tani seperti ini menjadi salah satu upaya memperbarui pengetahuan petani mengenai teknologi pertanian dan berbagai sistem baru untuk meningkatkan produktivitas usaha tani.
Dalam demplot yang menjadi percontohan tersebut, petani setempat belajar mengolah lahan secara berkelompok.
Lahan yang digunakan merupakan milik desa, dikelola secara bersama-sama, dan hasilnya dinikmati oleh seluruh warga yang terlibat.
Kecamatan Ngablak di lereng Gunung Merbabu dipilih sebagai lokasi kegiatan karena kawasan ini merupakan salah satu sentra hortikultura terbesar di Jawa Tengah sekaligus pemasok utama sayuran bagi wilayah perkotaan.
Di kawasan tersebut telah dibuat demplot berbagai tanaman sayuran, seperti kol, kentang, dan cabai, yang dibudidayakan menggunakan teknologi pertanian modern.
(Sumber: beritamagelang.id)
















