TIM IPB*, Koronisasi: Inovasi Tumpang Sari Sawit, Kacang Koro, dan Padi IPB 9G untuk Ketahanan Pangan dan Produktivitas Lahan Replanting

Koronisasi adalah istilah baru yang merujuk pada model tumpang sari antara kelapa sawit, kacang koro, dan padi varietas IPB 9G. Model ini dikembangkan melalui kolaborasi antara IPB University, Wageningen University & Research (WUR) Belanda, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan PT Citra Putra Kebun Asri (CPKA)

Panen 22 - 23 Juli 2025 (Sumber: Istimewa)
banner 120x600

Bogor, AGRINEWS – Koronisasi adalah istilah baru yang merujuk pada model tumpang sari antara kelapa sawit, kacang koro, dan padi varietas IPB 9G.

Model ini dikembangkan melalui kolaborasi antara IPB University, Wageningen University & Research (WUR) Belanda, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan PT Citra Putra Kebun Asri (CPKA).

banner 325x300

Kegiatan ini merupakan pelaksanaan kerjasama antara Indonesia dan Belanda dengan tema SustainPalm: Kelapa sawit berkelanjutan.

Program ini bertujuan untuk mendukung produksi minyak sawit berkelanjutan yang bersinergi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

SustainPalm berkomitmen menerapkan strategi yang efektif guna mendorong keberlanjutan di seluruh proses produksi minyak sawit.

Strategi yang diterapkan adalah menargetkan pemanfaatan lahan yang efisien dan efektif melalui penanaman tumpang sari sawit dengan tanaman pangan, untuk meningkatkan ketahanan mata pencaharian petani dan menghasilkan pendapatan melalui peningkatan produktivitas berbasis lahan.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah di Desa Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Istilah Koronisasi dipilih, karena kacang koro menjadi elemen kunci dalam sistem ini.

Tanaman koro mampu tumbuh optimal dan menghasilkan biji dalam kondisi lahan replanting sawit.

Kemampuannya dalam membentuk bintil akar yang memfiksasi nitrogen menjadikan tanah lebih subur secara kimiawi.

Selain itu, akar koro juga memperbaiki struktur tanah, meningkatkan porositas, dan memperbesar kapasitas tanah dalam menyimpan air.

Penanaman kacang koro dilakukan terlebih dahulu sebelum padi ditanam.

Langkah ini bertujuan meningkatkan kesuburan tanah secara fisik dan kimia.

Berdasarkan pengalaman lapangan, penanaman padi langsung tanpa pendahuluan koro sering mengalami kegagalan, terutama di lahan replanting sawit.

Uji coba sistem tumpang sari sawit–koro dimulai pada bulan Februari 2023 hingga Februari 2025.

Tahapan berikutnya, yaitu tumpang sari sawit–padi, berlangsung dari April hingga 23 Juli 2025.

Hasilnya cukup menggembirakan.

Produktivitas kacang koro mencapai 2,5–3 ton per hektare dengan input pupuk minimal.

Sementara itu, padi IPB 9G menghasilkan sekitar 3 ton per hektare.

Potensi hasil ini diperkirakan dapat meningkat lebih lanjut apabila tidak ada gangguan hama, khususnya walang sangit.

Manfaat kacang koro tidak sebatas pada perbaikan lahan.

Biji koro mengandung protein tinggi (25–27%) dan berpotensi sebagai bahan baku pakan ternak.

Setelah melalui proses pengolahan, biji koro juga dapat dimanfaatkan untuk produk pangan seperti tempe koro dan camilan koro goreng.

Keberhasilan penanaman padi IPB 9G di lahan sawit belum menghasilkan (TBM tahun ke-1–2) menunjukkan peluang besar bagi pengembangan tumpang sari sawit–padi di areal replanting.

Model ini membuka cakrawala baru dalam optimalisasi lahan sawit pascaremajakan.

Dukungan petani lokal memperkuat optimisme. H. Sariman dan istrinya, Ibu Sari, menyampaikan kekagumannya karena padi dapat tumbuh dengan baik di lahan replanting sawit, bahkan saat ditanam pada akhir musim hujan (April–Juli).

Biasanya petani menanam padi ladang pada bulan Oktober hingga Maret.

Mereka berencana menanam padi IPB 9G di lahan seluas 3 hektare pada musim hujan 2025/2026.

Tanggapan serupa datang dari pihak manajemen perusahaan.

Eko, Manajer PT CPKA menyatakan keberhasilan uji coba tumpang sari sawit–padi seluas 1,5 hektare mendorong pihaknya memperluas area hingga 10 hektare.

Panen padi direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pangan internal perusahaan dengan harga 20–25% lebih murah dibandingkan harga pasar.

Model Koronisasi ini, sangat sesuai dengan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

selama belum menghasilkan, petani dapat memperoleh pendapatan dari panen kacang koro dan padi.

Untuk memperluas dampaknya, diperlukan dukungan kemitraan melalui pendekatan Penta-Helix yang melibatkan unsur akademisi (PT dan BRIN), pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan media.

*Tim IPB: Sudradjat, Nahrowi, Hariyadi, Suria Tarigan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *