Jakarta, AGRINEWS – Upaya Indonesia memperkuat ketahanan kesehatan hewan terus dipercepat.
Langkah ini ditandai dengan pertemuan steering committee Program Bilateral Laboratory Collaboration (BICOLLAB) fase II antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) melalui Australia Centre for Disease Preparedness (ACDP) (10/2/2026).
BICOLLAB fase II difokuskan pada penyiapan Balai Besar Veteriner (BBV) Wates sebagai laboratorium rujukan WOAH di Asia Tenggara melalui penguatan kapasitas diagnostik, keamanan laboratorium, dan pengolahan data penyakit berbasis genetik.
Secara strategis, penguatan ini diarahkan untuk mempertegas peran BBV Wates sebagai National Reference Laboratory Avian Influenza (AI) Indonesia yang selaras dengan standar WOAH dan ISO dalam mendukung surveilans dan kesiapsiagaan AI di tingkat nasional dan regional.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan RI, Hendra Wibawa menyatakan, forum ini menjadi ruang penting untuk menyerap masukan dari unit laboratorium penerima manfaat, khususnya BBV Wates dan Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma), sekaligus memastikan substansi pembinaan berjalan tepat sasaran.
Ia menilai capaian yang telah diraih merupakan hasil kerja bersama yang harus dijaga keberlanjutannya.
“Ini adalah prestasi yang harus kita jaga. Ke depan, BBV Wates diharapkan dapat menjadi laboratorium dengan kapasitas sejajar laboratorium rujukan AI yang mendapatkan pengakuan WOAH di tingkat regional Asia,” ujar Hendra.
Hendra menekankan pentingnya evaluasi dan monitoring secara berkala, termasuk melalui peninjauan setiap tiga bulan, agar tujuan BICOLLAB dapat tercapai secara optimal.
Selain BICOLLAB, perkembangan program Regional External Quality Assurance for Disease Surveillance (REDS) turut menjadi sorotan.
Tahun 2026, program ini memiliki prioritas pada penguatan kapasitas BBV Wates dan Pusvetma dalam penyediaan External Quality Control (EQC) atau External Quality Assessment (EQA) untuk pengujian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sekaligus mendukung proses akreditasi ISO 17043.
Melalui REDS, peran Pusvetma diharapkan tidak hanya terbatas pada produksi vaksin, tetapi juga semakin kuat sebagai laboratorium rujukan PMK.
Kapasitas tersebut perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan, seiring tantangan penyakit hewan strategis yang terus berkembang.
Sementara itu, CSIRO-ACDP International Program Group Leader, Phoebe Readford mengatakan, kedua program telah berjalan cukup lama dan menunjukkan capaian yang signifikan.
BICOLLAB dimulai sejak tahun 2019 pada tahap pertama, sedangkan REDS berlangsung sejak akhir tahun 2022 dengan peningkatan teknis yang dinilai sangat mengesankan.
“Saya sangat bangga dengan capaian-capaian yang telah kita raih bersama sejauh ini, dan saya menantikan diskusi yang produktif untuk memastikan kegiatan ke depan tetap praktis serta selaras dengan kebutuhan dan aspirasi Indonesia,” imbuh Phoebe.
(Sumber: ditjenpkh.pertanian.go.id)
















