AYAM: Hilirisasi Terintegrasi di NTT, Strategi Perkuat Rantai Pasok Perunggasan Nasional

Kementerian Pertanian (Kementan) RI mendorong pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi di Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari strategi memperkuat rantai pasok perunggasan nasional berbasis potensi daerah

Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi di NTT (Sumber: ditjenpkh.pertanian.go.id)
banner 120x600

Sumba, AGRINEWS – Kementerian Pertanian (Kementan) RI mendorong pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi di Nusa Tenggara Timur.

Langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat rantai pasok perunggasan nasional berbasis potensi daerah.

banner 325x300

Program ini diarahkan untuk membangun ekosistem perunggasan yang efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan program, Kementan melakukan peninjauan untuk memastikan kesiapan teknis serta dukungan wilayah.

Aspek yang menjadi perhatian, adalah ketersediaan sumber air, akses logistik, calon lokasi kandang, hingga rencana pembangunan fasilitas pendukung seperti pabrik pakan dan rumah potong hewan unggas (RPHU).

Hasil peninjauan tersebut akan menjadi dasar penyusunan perencanaan teknis dan tahapan implementasi ke depan.

Pemerintah daerah menyambut positif rencana pengembangan tersebut.

Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali menilai, program hilirisasi ayam terintegrasi sebagai peluang strategis bagi daerah.

“Kami melihat program ini sebagai peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak dan tenaga kerja lokal,” ujarnya saat audiensi di Kabupaten Sumba Timur (30/12/2025).

Komitmen serupa disampaikan Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla.

Ia menegaskan kesiapan pemerintah daerah, mendukung pengembangan integrasi dan hilirisasi ayam di wilayahnya, terutama untuk menjawab tingginya kebutuhan protein hewani masyarakat.

“Kami turun langsung untuk memastikan kesiapan lokasi dan ekosistem pendukung. Jika ada kendala, kami siap mencari solusi bersama agar program ini dapat segera berjalan,” imbuhnya.

Menurut Ratu, pengembangan integrasi ayam di daerah, diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui keterlibatan peternak dan masyarakat setempat.

“Pemerintah daerah siap mendukung. Prinsip kami jelas, masyarakat harus diuntungkan agar program ini berkelanjutan,” tuturnya.

Hilirisasi ayam terintegrasi, dirancang mencakup seluruh mata rantai usaha dalam satu kawasan, mulai dari penyediaan pakan, pembibitan, budi daya, hingga pengolahan dan distribusi produk unggas.

Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap produksi unggas daerah dapat tumbuh sekaligus memberi nilai tambah bagi perekonomian lokal.

Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, Kementerian Pertanian berharap hilirisasi ayam terintegrasi di Nusa Tenggara Timur dapat menjadi model penguatan subsektor perunggasan berbasis potensi lokal, sekaligus mendukung ketersediaan pangan asal unggas yang berkelanjutan dan terjangkau bagi masyarakat.

(Sumber: ditjenpkh.pertanian.go.id)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *