MELON: Melihar Potensi Pertanian Melon Hidroponik di Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur

Di lahan seluas kurang lebih 10 x 50 meter itu, dibudidayakan sekitar 7.500 tanaman melon menggunakan sistem hidroponik drip irrigation, sehingga suplai air dan nutrisi dapat diberikan secara terkontrol ke setiap tanaman.

Budi Daya Melon Hidroponik di Banyuwangi, Jawa Timur (Sumber: banyuwangikab.go.id)
banner 120x600

Banyuwangi, AGRINEWS – Pertanian merupakan sektor utama pengungkit perekonomian Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebagai Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani terus mendorong warganya untuk mengembangkan potensi pertanian, seperti yang terlihat saat meninjau budi daya melon hidroponik.

banner 325x300

Budi daya ini dikembangkan di Villa Green House di Dusun Tegalgondo, Desa Kajarharjo.

Ipuk melihat dari dekat budi daya melon hidroponik, serta ikut dalam proses panen melon di dalam greenhouse.

“Ada beberapa jenis melon kualitas premium yang ada disini, tapi saya ikut manen salah satunya yakni jenis Kirin. Yang jelas, melon disini itu semua tipenya yang crunchy (renyah),” ujar Ipuk, saat meninjau pertanian tersebut di sela-sela kunjungan kerjanya di Kecamatan Kalibaru (25/2/2026).

Di lahan seluas kurang lebih 10 x 50 meter itu, dibudidayakan sekitar 7.500 tanaman melon menggunakan sistem hidroponik drip irrigation, sehingga suplai air dan nutrisi dapat diberikan secara terkontrol ke setiap tanaman.

Greenhouse membudidayakan tiga varietas utama melon, yakni Kirin atau Golden Kirin berwarna kuning bernet, Sweet Hami (Hami Gua) berkulit hijau, serta Golden Aroma dengan kulit hijau dan daging oranye.

Setiap dua pekan, greenhouse yang dikelola secara perorangan itu bisa memanen sekitar 1.000 buah melon.

“Produksinya sudah tertata dengan baik. Ini contoh pertanian modern yang bisa terus dikembangkan. Saya juga minta Dinas Pertanian untum terus mendampingi,” ungkap Ipuk.

Pengelola greenhouse, Imam Badrus Soleh menambahkan, usaha budi daya di lokasi tersebut, telah berjalan selama dua tahun untuk melon.

Sebelumnya, lahan itu ditanami cabai.

Namun karena kondisi lingkungan lebih cocok untuk melon, komoditas tersebut menjadi fokus pengembangan hingga sekarang.

Dalam satu pohon hanya dipertahankan satu buah, agar kualitas dan ukuran maksimal.

Siklus tanam hingga panen berlangsung sekitar 70-80 hari, dengan total persiapan hingga produksi kurang lebih tiga bulan.

“Rata-rata produksi per pohon bobotnya itu 1,5 sampai 2 kilogram. Melon ini umurnya hanya 3 bulan. Setelah panen, tanaman dibongkar dan dilakukan penanaman ulang,” imbuh Badrus.

Untuk tingkat kemanisan (brix), varietas Kirin dan Sweet Hami mampu mencapai brix 16-18.

Sementara Golden Aroma berada di kisaran brix 13-15 saat panen.

“Harga jual melon bervariasi. Varietas Kirin dipasarkan sekitar Rp35.000 per kilogram, sedangkan Sweet Hami dan Golden Aroma sekitar Rp30.000 per kilogram. Untuk pasar sementara masih wilayah Banyuwangi dan beberapa juga dijual ke Jember,” tutur Badrus.

(Sumber: banyuwangikab.go.id)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *