Wisata  

SUKAWA EDUPARK: Ketika Peternakan Kambing dari Hulu hingga Hilir, Menjadi Usaha Wisata Edukasi…

Sukawa Edupark, wahana wisata berbasis edukasi peternakan kambing etawa terwujud, berangkat dari semangat riset, inovasi, dan pemberdayaan lokal

Wisata Berbasis Edukasi Peternakan Kambing di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Sumber: beritamagelang.id)
banner 120x600

Magelang, AGRINEWS – Dari lereng Gunung Sumbing, di wilayah Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, gagasan wisata berbasis edukasi peternakan kambing menemukan rumahnya.

Desa Kebonlegi yang memiliki bentang lahan luas dan udara sejuk, menjadi lokasi ideal peternakan kambing.

banner 325x300

Terpantiklah, ide menarik untuk mengembangkan usaha peternakan kambing menjadi daya tarik wisata.

Sukawa Edupark, wahana wisata berbasis edukasi peternakan kambing etawa terwujud, berangkat dari semangat riset, inovasi, dan pemberdayaan lokal.

Cikal bakalnya muncul dari ajang Krenova (Kreativitas dan Inovasi Masyarakat) Kabupaten Magelang tahun 2025.

Saat itu, Ario Supariyo, inovator Sukawa, fokus pada pengembangan es krim sehat berbahan baku susu kambing etawa.

Ia berinovasi memproduksi susu kambing etawa menjadi es krim yang lebih disukai banyak kalangan.

Langkah ini diharapkan menjadi solusi hilirisasi produk susu kambing perah.

Komoditas susu kambing etawa sudah dikenal masyarakat Magelang, namun belum banyak diolah menjadi produk bernilai tambah.

Inovasi Sukawa (Susu Kambing Etawa), berhasil meraih Juara 1 Krenova kategori Agribisnis dan Ketahanan Pangan.

“Dari situ kami merasa punya tanggung jawab. Tidak hanya berhenti pada produk (susu kambing etawa), tapi mengembangkan ekosistemnya,” ujar pengelola Sukawa Edupark, Johan Efendi (7/2/2026).

Johan membangun Sukawa Edupark menjadi kawasan terpadu yang menggabungkan edukasi peternakan kambing, pengolahan hasil ternak, dan wisata keluarga dalam satu ekosistem bersama.

Berada di Desa Wisata Wonomukti SiGuede, Desa Kebonlegi, Kaliangkrik, lahan ini dinilai ideal untuk mengembangkan wisata berbasis alam dan edukasi.

Berbeda dengan peternakan komersial berskala besar, Sukawa Edupark menegaskan dirinya sebagai wahana edukasi.

Saat ini, jumlah kambing yang dipelihara sebanyak 80 ekor, sebagian besar adalah kambing etawa.

Beberapa jenis kambing lainnya, didatangkan dari berbagai daerah di Nusantara.

“Tapi ini bukan soal banyaknya kambing, tapi menekankan pada proses belajarnya,” kata Johan.

Di kawasan ini, pengunjung tidak hanya melihat kandang dari kejauhan.

Anak-anak dan keluarga diajak terlibat langsung memberi pakan, memandikan kambing, hingga memerah susu.

Aktivitas memandikan kambing, tentu menjadi pengalaman unik yang jarang ditemui di destinasi wisata lain.

Susu kambing yang diperah, tidak berhenti hanya menjadi bahan mentah.

Pengunjung bisa menyaksikan langsung proses pengolahan susu kambing menjadi susu bubuk, es krim, dan roti.

Seluruh rantai proses pengolahan susu kambing etawa, dari hulu hingga hilir diperlihatkan secara terbuka sebagai bagian dari edukasi.

Kambing etawa dipilih, karena selain sudah populer di Magelang, susunya dikenal memiliki keunggulan nutrisi.

Kandungan lemaknya lebih mudah dicerna dibanding susu sapi, dengan globula lemak yang lebih sedikit.

Susu etawa juga mengandung protein, kalsium, fosfor, serta vitamin A dan B kompleks yang baik untuk kesehatan tulang, pencernaan, dan daya tahan tubuh.

Bagi kebanyakan orang yang alergi mengonsumsi susu sapi, susu kambing etawa sering menjadi alternatif yang lebih ramah.

Tidak hanya diambil susunya, kambing di Sukawa Edupark juga diolah dagingnya.

Produksi daging kambing relatif stabil, bahkan tumbuh seiring tren pangan fungsional dan produk kesehatan alami.

Dengan sistem pengolahan terpadu, nilai jual produk bisa meningkat berkali lipat dibanding menjual bahan mentah.

Sukawa Edupark mengusung prinsip nol sampah.

Kotoran ternak diolah menjadi pupuk, pupuk dipakai untuk media tanam pakan, dan pakan akan kembali ke kandang.

Hampir semua bagian dalam siklus peternakan kambing bisa dimanfaatkan, dari susu, daging, hingga limbah sampingan lainnya.

Di Sukawa Edupark, tersedia outlet produk olahan dan restoran khusus masakan kambing yang akan melengkapi pengalaman wisata sekaligus kuliner.

“Tagline kami sederhana: Belajar kambing dari hulu hingga hilir,” imbuh Johan.

Target utama wisata ini adalah anak-anak dan keluarga.

Di tengah gempuran wisata digital dan hiburan berbasis layar, Sukawa Edupark menawarkan pengalaman berbeda.

Interaksi langsung dengan alam, hewan, dan proses produksi pangan.

Nilai edukasi menjadi titik tekan, bukan sekadar rekreasi.

Sukawa Edupark tidak berhenti sebagai tempat wisata.

Pengelola membuka diri berkolaborasi dengan lembaga pendidikan dan civitas akademika untuk mengembangkan teknik dan teknologi peternakan kambing.

Kerja sama teknologi pangan ternak sudah terbangun dengan beberapa universitas.

Harapannya, Sukawa Edupark bisa menjadi laboratorium terbuka, tempat riset terapan dijalankan langsung di lapangan, mulai dari pakan, budi daya, hingga pengolahan hasil.

Sukawa Edupark juga membawa misi pemberdayaan masyarakat lokal.

Inovasi bagi mereka, harus berdampak.

Melibatkan warga sekitar sebagai bagian dari rantai produksi dan wisata, menjadi tujuan jangka panjang.

Sekaligus, membuka peluang ekonomi baru di kawasan pegunungan Magelang.

(Sumber: beritamagelang.id)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *